Hello Guys.. Welcome to my blog.. :-)

Jumat, 08 Mei 2020

DEWASA MADYA 40-60 TAHUN


MAKALAH PSIKOLOGI PERKEMBANGAN

DEWASA MADYA 40-60 TAHUN

UNTUK MEMENUHI SALAH SATU TUGAS
DOSEN PENGAMPU : EFRI MANDASARI, M.PSI




Disusun
o
l
e
h

KELOMPOK 9 :
Mastiani  Nur Halimah Ritonga        : 0102171026
Nur Aisyah                                           : 0102173209
Rizki Ananda                                       : 0102172073



BIMBINGAN PENYULUHAN ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUMATERA UTARA
MEDAN
2018/2019


KATA PENGANTAR


Bismillahirrohmanirrohiim. Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, inayah, taufik, dan ilhamnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca. Makalah ini disusun dalam rangka untuk menyelesaikan tugas dari dosen kami ibu Efri Mandasari M.Psi selaku pengampu materi Psikologi perkembangan.

Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun  isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.

Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang kami miliki sangat kurang. Oleh karena itu kami harapkan kepada pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini. Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini sehingga dapat terselesaikan, apabila ada kesalahan dalam penulisan kami mohon maaf. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai kita semua.






Medan, 12 Desember 2018

                                   penyusun


BAB I
PENDAHULUAN



A.    Latar Belakang Masalah

Pada umunya usia madya atau usia setengah baya dipandang sebagai masa usia antara 40 sampai 60 tahun. Masa tersebut pada akhirnya ditandai oleh adanya perubahan-perubahan jasmani dan mental. Pada usia 60 tahun biasanya terjadi penurunan kekuatan fisik, sering pula diikuti oleh penurunan daya ingat. Walaupun dewasa ini banyak yang mengalami perubahan-perubahan tersebut lebih lambat daripada masa lalu, namun garis batas tradisionalnya masih nampak. Meningkatnya kecenderungan untuk  pensiun pada usia enam  puluhan sengaja atau pun tidak sengaja  usia enam puluhan tahun dianggap sebagai garis batas antara usia madya dengan usia lanjut, jadi batasnya bukan 65 tahun.

            Oleh karena usia madya merupakan periode yang panjang dalam rentang kehidupan manusia, biasanya usia tersebut dibagi-bagi ke dalam dua sub bagian, yaitu : usia madya dini  yang membentang dari usia 40 hingga 50 tahun dan usia madya lanjut yang berbentang antara 50 sampai 60 tahun. Selama usia madya lanjut, perubahan fisik dan psikologis yang pertama kali mulai selama 40-an awal menjadi lebih keliatan.

          Seperti halnya periode lain dalam rentang kehidupan berbeda menurut tahap dimana perubahan fisik yang membedakan usia madya dari masa dewasa dini pada satu batas, dan usia lanjut di batas lainnya. Menurut pepatah kuno, seperti halnya buah apel, matangnya pun tidak pada waktu yang sama, ada yang pada bulan Juli dan ada pula yag pada bulan Oktober. Demikian juga halnya dengan manusia.

Masalah-masalah tertentu yang timbul dalam penyesuaian diri merupakan ciri dari usia madya pada kebudayaan masa kini. Beberapa dari masalah tersebut lebih sulit lagi  bagi pria, dan beberapa lainnya lebih sulit bagi wanita. Masalah utama yang harus dipecahkan dan disesuaikan secara memuaskan selama usia madya mencakup apa saja yang menjadi tugas-tugas perkembangan selama periode ini.

            Pada kebanyakan orang tanda dari dewasa madya ditandai dengan kemajuan pekerjaan, pekawinan, meningkatnya ekonomi, aktif untuk mengikuti kegiatan sosial, dan dorongan seks bertambah sehingga disebut masa puber kedua, mengurangi kegiatan yang banyak dilakukan secara fisik dan masa break down secara fisik seperti mulai sakit-sakitan.

            Seperti halnya dengan tugas-tugas perkembangan periode lain, maka tugas-tugas perkembangan masa dewasa madya tidaklah sepenuhnya dapat dikuasai dalam waktu sama oleh setiap orang. Hanya beberapa tugas yang bisa dikuasai sepenuhnya. Kondisi ini selalu bervariasi untuk setiap individu. Kebanyakan tugas-tugas perkembangan usia dewasa madya ialah persiapan penyesuaian diri dalam mengatur dan menentukan kebahagiaannyadi masa tua.

            Tuga-tugas perkembangan masa dewasa madya ialah menyesuaikan diri pada perubahan dan penurunan kondisi fisik, menyesuaikan diri dalam perubahan minat, atau menyesuaikan diri kepada relasi keluarga dan pasangan hidup.


 B. Rumusan Masalah 
1.  Apa yang dimaksud dengan dewasa madya ?
2. Bagaimana perkembangan fisik, kognitif, emosi, dan sosial pada masa dewasa madya ?
3. Apa saja karakter usia madya ?
4. Ciri-ciri masa dewasa madya ?
5. Tugas-tugas perkembangan pada masa dewasa madya ?

B.     Tujuan

1. Untuk mengetahui yang dimaksud dengan dewasa madya

2. Untuk mengetahui bagaimana perkembangan fisik ,emosi, dan sosial pada masa dewasa madya

3. Untuk mengetahui apa saja yang menjadi karakteristik usia madya

4. Untuk mengetahui ciri-ciri pada usia madya

5. Untuk mengetahui apa saja yang menjadi tugas-tugas perkembangan pada masa dewasa madya.



BAB II
PEMBAHASAN



A. Pengertian Dewasa Madya

          Setelah melewati masa prenatal, bayi, anak-anak, dan remaja, maka manusia (individu) akan memasuki masa dewasa. Ada beberapa pendapat para ahli mengenai pengertian dewasa,  antara lain :

 1). Menurut Elizabeth B. Hurlock dikutip oleh Dr. Masganti Sit, M.Ag, masa dewasa adalah individu yang siap menerima kedudukan dalam masyarakat bersama dengan orang dewasa lainnya.[1]
2). Menurut Syathi’ seorang ahli Psikologi, dewasa adalah periode perkembangan yang bermula pada akhir usia belasan tahun atau awal usia dua puluhan tahun dan yang berakhir pada usia tuga puluhan tahun. Ini adalah masa pembentukan kemandirian pribadi dan ekonomi, masa perkembangan karir, dan bagi banyak orang, masa pemilihan pasangan, belajar hidup dengan seseorang secara akrab, memulai keluarga, dan mengasuh anak-anak.[2] . Masa dewasa adalah masa dimana seorang individu memilih nilai-nilai yang menurut dia tepat dan berusaha untuk mempertahankan nilai-nilai yang dipilihnya.[3]

Masa dewasa madya ini berlangsung dari umur empat puluh sampai enam puluh tahun. Dewasa madya adalah masa transisi seorang individu, dimana pria dan wanita meninggalkan ciri-ciri jasmani dan perilaku masa dewasanya dan memasuki suatu periode dalam kehidupan dengan ciri-ciri jasmani dan perilaku yang baru. Perhatian terhadap agama lebih besar dibandingkan dengan masa sebelumnya dan kadang-kadang minat dan perhatiannya terhadap agama ini dilandasi kebutuhan pribadi dan sosial.

Usia dewasa madya atau yang popular dengan istilah setengah baya, dari sudut posisi usia dan terjadinya perubahan fisik maupun psikologis, memiliki banyak kesamaan dengan masa remaja. Bila masa remaja merupakan masa peralihan, dalam arti bukan lagi masa kanak-kanak namun belum bisa disebut dewasa, maka pada setengah baya, tidak dapat lagi disebut muda, namun juga belum bisa dikatakan tua.

Secara fisik, pada masa remaja terjadi perubahan yang demikian pesat (menuju ke arah kesempurnaan/kemajuan) yang berpengaruh pada kondisi psikologisnya, sedangkan individu setengah baya juga mengalami perubahan kondisi fisik, namun dalam pengertian terjadi penurunan/kemunduran, yang juga akan mempengaruhi kondisi psikologisnya.[4]


B. Perkembangan Fisik Dewasa Madya, Emosi, dan Sosial Pada Masa Dewasa Madya


Pada masa dewasa madya terjadi perubahan fungsi fisik yang tak mampu berfungsi seperti sedia kala, dan beberapa organ tubuh tertentu mulai kehilangan (menurun) fungsinya. Melihat dan mendengar merupakan dua perubahan yang paling menyusahkan paling banyak tampak dalam dewasa tengah. Daya akomodasi mata untuk memfokuskan dan mempertahankan gambar pada retina akan mengalami penurunan tajam antara usia 40 tahun keatas. Karena pada usia tersebut aliran darah pada mata juga berkurang. Pendengaran mungkin juga mulai menurun pada usia ini yaitu mulai memasuki usia 40.

Meskipun kemampuan untuk mendengar suara-suara bernada rendah tidak begitu kelihatan. Laki-laki biasanya kehilangan sensitifitasnya terhadap suara bernada tinggi lebih dahulu daripada perempuan. Hal ini mungkin disebabkan oleh lebih besarnya pengalaman laki-laki terhadap suaru gaduh dalam pekerjaan.[5] Pada masa ini, baik pria maupun wanita selalu terdapat ketakutan, dimana penampilannya pada masa ini akan menghambat kemampuannya untuk mempertahankan pasangan mereka, atau mengurangi daya tarik lawan jenis. Ada beberapa perubahan yang terjadi pada masa dewasa madya, antara lain :

*Perubahan Fisik, diantara perubahan fisik pada masa ini antara lain ; tumbuhnya uban, kulit mulai keriput, gigi yang menguning, tulang-tulang bergeser lebih dekat antara yang satu dengan yang lainnya, sulit melihat objek-objek yang dekat, penurunan pada sensitivitas pendengaran, menopause (reproduksi haid akan mulai berhenti), dan lain-lain.[6]
* Perkembangan Kognitif,  pada tahap ini perkembangan intelektual dewasa sudah mencapai titik akhir puncaknya yang sama dengan perkembangan tahap sebelumnya. Pada masa ini individu dalam menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu memikirkannya secara teoritis. Ia menganalisis masalahnya dengan penyelesaian berbagai hipotesis yang mungkin ada. Atas dasar analisanya ini, seorang individu kemudian membuat suatu strategi penyelesaian.[7]


* Aspek Perkembangan Emosi

Dalam banyak hal, periode dewasa madya adalah waktu timbulnya tekanan emosional. Bernice Nengeartein (Callhoun dan Acocella, l990) mengatakan bahwa peroiode ini merupakan suatu masa ketika orang dapat merasa puas dengan keberhasilannya. Meskipun bagi orang lain  ada kalanya periode ini justru merupakan  permulaan kemunduran, namun bagi Erik Erikson (Callhoun dan Acocella, l990)  dalam periode ini individu memiliki antara kearifan dan penyerapan pribadi. Kearifan yang dimaksud adalah kapasitas untuk mengembangkan perhatian terhadap orang lain atau masyarakat sekitar. Orang yang gagal mengembangkan kapasitas kearifan ini mungkin menjadi semakin terserap pada diri mereka sendiri seperti larut dalam kehidupan duniawi dan bendawi saja.

Teori Erikson ini  berpijak pada kenyataan yang dia sinyalir bahwa dalam setiap tingkat kehidupan selalu dicirikan dengan pilihan-pilihan antara 2 pendekatan terhadap kehidupan, satu positif dan satunya negatif. Tampaknya tengah baya merupakan  salah satu waktu dalam hidup seseorang dimana banyak terjadi peristiwa besar yang memaksanya untuk mengadakan penataan kembali. Penataan kembali itu kiranya terjadi karena adanya beberapa perubahan besar dalam hal fisiologis, psikologis, seksual dan perubahan-perubahan sosial yang menyertai ketiga perubahan itu.

Ada beberapa bahaya personal bagi orang berusia madya dalam menyesuaikan diri dengan peran dan gaya hidup baru. Dari itu semua, ada tujuh macam yang dianggap umum dan serius diantaranya sebagi berikut :

1. Diterimanya Kepercayaan Tradisional

Diterimanya kepercayaan tradisional tentang ciri-ciri usia madya mempunyai pengaruh yang sangat mendalam terhadap perubahan perilaku fisik yang terjadi seiring dengan bertambahnya usia. Seseorang yang mengalami menopause misalnya, seiring disebut sebagai “masa krisis” (critical period), kepercayaan seperti ini dapat menambah rasa takut yang tidak menentu, seperti dikatakan oleh Parker.

2. Idealisasi Anak Muda

Banyak orang usia madya khususnya kaum pria secara konstan menentang pengelompokan usia dalam pola perilaku umum. Seorang pria mungkin akan menolak untuk patuh mengikuti resep dokter tentang diet atau akan menolak untuk membatasi kegiatan walaupun dengan alasan kesehatan. Seperti anak yang menjelang usia akil baliq, mereka juga tidak mau dibatasi perilakunya. Begitu juga orang yang berusia madya, mereka juga tidak mau dibatasi perilaku dan perilakunya, tetapi masing-masing dari contoh tersebut mempunyai alasan yang berbeda. Sikap pemberontak seperti itu berasal dari pengenalan terhadap nilai bahwa masyarakat mengikat anak muda dan karena itu mereka menentang terhadap setiap bentuk pembatasan, ini berarti mereka sedang tumbuh menjadi lebih tua. Kondisi yang seperti ini menyebabkan mereka yang berusia madya menderita biasa atau lebih serius.

3.     Perubahan Peran

Merubah peran bukanlah masalah yang mudah, terutama setelah seseorang telah memainkan peran tertentu selama periode waktu yang relatif lama dan telah belajar memperoleh kepuasan dari peran tersebut. Lebih lanjut, dapat dikatakan bahwa terlalu berhasil dalam suatu peran nampaknya dapat mengakibatkan kekakuan sehingga proses penyesuaian terhadap peran lain akan menjadi sulit.

4. Perubahan Keinginan Dan Minat

Bahaya besar dalam penyesuaian diri seseorang pada masa usia madya timbul karena ia mau tidak mau harus mengubah keinginan dan minatnya sesuai dengan tingkat ketahanan tubuh dan kemampuan fisik serta memburuknya tigkat kesehatan fisik. Mereka mau tidak mau harus mencoba untuk mencari dan mengembangkan keinginan baru sebagai pengganti keinginan lama yang biasa dilakukan, atau jauh hari sebelum masa madya tiba mereka telah mengembangkan keinginan baru tersebut yang cukup menarik sehingga dapat membebaskannya dari perasaan tertekan dan tidak enak karena kehilangan keinginan yang biasanya dilakukan. Apabila hal ini tidak dilakukan, mereka akan merasa bosan dan bingung karena mereka tidak tahu bagaimana cara memanfaatkan waktu yang begitu banyak. Seperti seorang dewasa yang menjadi bosan pada waktu mereka harus mencari berbagai kegiatan dan keinginan untuk mengisi waktu yang begitu banyak.

5. Simbol Status

Pada umumnya wanita semakin tua semakin tertarik pada simbol status yang dapat membahayakan penyesuaian pribadi dan sosial, apabila keluarga tidak berusaha untuk mencapai atau memiliki simbol yang diinginkan. Dalam kasus seperti ini, ada tiga reaksi umum sebagai bagian dari wanita yang sangat membutuhkan simbol tersebut. Pertama, dia akan mengeluh dan mengomeli suaminya yang tidak dapat menyediakan cukup uang untuk memperoleh status tersebut. Kedua, dia akan bersikap boros dan menjerumuskan keluarganya dengan melakukan utang. Ketiga, dia bisa juga berbuat sesuatu dengan bekerja misalnya agar mempunyai cukup uang demi mencukupi kebutuhannya. Semua pola respon tersebut merupakan tanda betapa besar keinginan seseorang untuk memperoleh simbol status. Sikap seperti ini dapat menimbulakn percekcokan dengan keluarga, terutama perilaku yang ketiga tadi yang menjadikan banyak pria menjawab dan bersikap tidak menyenangkan. Karena ia sadar hal itu tidak mungkin ia peroleh.

6. Aspirasi Yang Tidak Realistis

Orang berusia madya yang mepunyai keinginan yang tidak realistis tentang apa yang ingin dicapai menghadapi masalah yang serius dalam proses penyesuaian diri dan sosial, apabila kelak ia menyadari bahwa ia tidak bisa mencapai tujuan tersebut. Sikap tidak realistis ini sering merupakan faktor bawaan sejak masa remaja. Bahaya ini merupakan efek langsung bagi pria, sedang bagi wanita merupakan efek tidak langsung apabila suaminya atau tidak mampu untuk mencapai cita-cita yang diinginkan.

7.      Perubahan Kepribadian

Sehubungan dengan hilangnya keperkasaan menyebabkan sejumlah orang usia madya berperilaku hampir sama dengan orang berusia muda yang sedang menunjukkan kejantanannya. periode ini bisa menjadi periode yang berbahaya bagi pria-pria, dimana ia masih mempunyai istri namun terlibat juga dalam urusan cinta dengan perempuan lain.

*Aspek Perkembangan Sosial
Selama masa dewasa, dunia sosial dan personal dari individu menjadi lebih luas dan kompleks dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Penyesuaian sosial pada setiap tahap usia ditentukan oleh dua faktor. Pertama adalah sejauh mana seseorang dapat memainkan peran sosial secara tepat sesuai dengan apa yang diharapkannya. Kedua adalah sejauh mana seseorang memainkan salah satu peran penting dalam mengembangkan tugas seseorang selama usia madya untuk mencapai tanggung jawab sebagai warga Negara dan tanggung jawab sosial.
Pada masa dewasa madya ini, individu memasuki peran kehidupan yang lebih luas. Pola dan tingkah laku sosial orang dewasa berbeda dalam beberapa hal dari orang yang lebih muda. Perbedaan-perbedaan tersebut tidak disebabkan oleh perubahan-perubahan fisik dan kognitif yang berkaitan dengan penuaan, tetapi lebih disebabkan oleh peristiwa-peristiwa kehidupan yang dihubungkan dengan keluarga dan pekerjaan. Selama periode ini orang melibatkan diri secara khusus dalam karir, pernikahan, dan hidup berkeluarga. Menurut Erikson, perkembangan psikososial selama masa dewasa dan tua ini ditandai dengan tiga gejala penting, yaitu keintiman, genertif dan integritas.
1. Perkembangan Keintiman
Keintiman dapat diartikan sebagai suatu kemampuan memperhatikan orang lain dan membagi pengalaman dengan mereka. Orang yang tidak dapat menjalin hubungan intim dengan orang lain akan terisolasi. Menurut Erikson, pembentukan hubungan intim ini merupakan tantangan utama yang dihadapi oleh orang yang memasuki masa dewasa. Pada masa dewasa madya ini, orang-orang telah siap dan ingin menyatukan identitasnya dengan orang lain. Mereka mendambakan hubungan-hubungan yang intim-akrab, dilandasi rasa persaudaraan, serta siap mengembangkan daya-daya yang dibutuhkan untuk memenuhi komitmen-komitmen ini sekalipun mereka mungkin harus berkorban untuk itu. Dalam suatu studi ditunjukkan bahwa hubungan intim mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan psikologis dan fisik seseorang. Orang-orang yang mempunyai tempat untuk berbagi ide, perasaan dan masalah, merasa lebih bahagia dan lebih sehat dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki tempat untuk berbagi (Traupmann & Hatfield, 1981). Adapun gejala dalam perkembangan sosial ini adalah menimbulkan cinta dan berujung pada pernikahan.
a. Cinta
Selama tahap perkembangan keintiman ini, nilai-nilai cinta muncul. Cinta mengacu pada perilaku manusia yang sangat luas dan kompleks. Menurut Santrock (1995), cinta dapat diklasifikasikan menjadi empat bentuk cinta, yaitu: altrualisme, persahabatan, cinta yang romantis atau bergairah, dan cinta yang penuh perasaan atau persahabatan. Meskipun cinta sudah tampak dalam tahap-tahap sebelumnya (seperti cinta bayi pada ibunya, dan cinta birahi pada remaja), namun perkembangan cinta dan keintiman cinta sejati baru muncul setelah seseorang memasuki masa dewasa. Pada masa dewasa ini, perasaan cinta lebih dari sekedar gairah atau romantisme, melainkan suatu afeksi cinta yang penuh perasaan dan kasih sayang.
Cinta pada orang dewasa ini diungkapkan dalam bentuk kepedulian terhadap orang lain. Orang- orang dewasa awal lebih mampu melibatkan diri dalam hubungan bersama, dimana mereka saling berbagi hidup dengan seorang mitra yang intim. Suatu tipe cinta yang paling kuat, atau cinta sempurna hanya akan terbentuk apabila dilandasi oleh ketiga komponen cinta (gairah, keintiman dan komitmen).
b. Pernikahan dan Keluarga
Agar memiliki arti sosial yang menetap, maka genelitas membutuhkan seseorang yang dicintai dan dapat diajak melakukan hubungan seksual, serta dapat berbagi rasa dalam suatu hubungan kepercayaan. Hampir setiap masyarakat, hubungan seksual dan keintiman pada masa dewasa awal ini diperoleh melalui lembaga pernikahan atau perkawinan. Meskipun konsep dan definisi orang tentang perkawinan pada setiap kebudayaan dan suku bangsa tidak sama, namun hampir setiap budaya dan suku bangsa agaknya mempunyai pandangan yang sama bahwa perkawinan merupakan sesuatu yang bersifat suci dan dibutuhkan dalam kehidupan ini. Meskipun belakangan ini kecenderungan orang dewasa untuk hidup membujang meningkat dan perceraian sering terjadi, namun orang Amerika masih menunjukkan kecenderungan yang kuat untuk menikah.
Setiap individu cenderung mencari pasangan hidup yang mempunyai latar belakang etnik, sosial dan agama yang sama. Bertentangan dengan pendapat umum, kaum perempuan tampaknya kurang romantis dibandingkan dengan laki-laki dalam usaha pendekatan memilih pasangan mereka. Laki-laki cenderung lebih cepat jatuh cinta dari pada perempuan dan merasa puas dengan kualitas calon pasangan mereka. Sebaliknya, perempuan lebih praktis dan berhati-hati dalam menentukan pasangan dan lebih mungkin untuk membandingkan calon pasangannya dengan alternatif lainnya. Dalam penelitian nasional yang dilakukan Elizabeth Douvan dan teman-temannya, dilaporkan bahwa hampir 60 % pria dan wanita dari seluruh partisipan mengaku bahwa kadang-kadang mereka megalami berbagai problem dalam kehidupan perkawinan mereka. Problem-problem perkawinan ini disebabkan oleh beberapa faktor :
1. Pasangan gagal mempertemukan dan menyesuaikan kebutuhan dan harapan satu sama lain.
2. Salah satu pasangan mengalami kesulitan menerima perbedaan-perbedaan nyata dalam kebiasaan kebutuhan, pendapat, kerugian dan nilai. Problem yang saling mencolok ialah masalah keuangan dan anak-anak.
3. Adanya perasaan cemburu dan perasaan memiliki yang berlebihan, membuat masing-masing merasa kurang mendapat kebebasan,
4. Pembagian tugas dan wewenang yang tidak adil, kegagalan dalam berkomunikasi dan masing-masing pasangan tumbuh dan berkembang ke arah yang berbeda, tidak sejalan mencari minat dan tujuan sendiri-sendiri (Davidoff,1998).
2.  Perkembangan Generativitas
Generativitas (Generativity), adalah tahap perkembangan psikososial ketujuh yang dialami individu selama pertengahan masa dewasa. Ciri utama tahap generativitas adalah perhatian terhadap apa yang dihasilkan (keturunan, produk-produk, ide-ide dan sebagainya), serta pembentukan dan penetapan garis-garis pedoman untuk generasi mendatang. Transmisi nilai-nilai soaial ini diperlukan untuk memperkaya aspek psikoseksual dan aspek psikososial kepribadian. Apabila generativitas lemah atau tidak diungkapkan, maka kepribadian akan mundur, mengalami pemiskinan, dan stagnasi.
Bagi kebanyakan orang, usia antara 40-50 tahun merupakan masa paling produktif. Laki-laki dalam usia 40-an biasanya berada pada puncak karir mereka. Pada usia ini, perempuan mempunyai lebih sedikit tanggung jawab di rumah karena anak-anak telah besar dan dapat mencurahkan lebih banyak waktu untuk karir atau kegiatan sosial. Kelompok ini merupakan kelompok usia yang sesungguhnya mengatur masyarakat, baik dalam hal kekuasaan maupun tanggung jawab.
Generitivitas pada masa usia baya ini ialah suatu rasa kekhawatiran mengenai bimbingan dan persiapan bagi generasi yang akan datang. Jadi pada tahap ini, nilai pemeliharaan berkembang. Pemeliharaan terungkap dalam kepedulian seseorang pada orang-orang lain, dalam keinginan memberikan perhatian pada mereka yang membutuhkannya serta berbagi dan membagi pengetahuan serta pengalaman dengan mereka. Nilai pemeliharaan ini tercapai lewat kegiatan membesarkan anak dan mengajar, memberi contoh dan mengontrol.
3. Perkembangan Integritas
Integritas (Integrity) merupakan tahap perkembangan psikososial Erikson yang terakhir. Integritas paling tepat dilukiskan sebagai suatu keadaan yang dicapai seseorang setelah memelihara benda-benda, orang-orang, produk-produk dan ide-ide serta setelah berhasil melakukan penyesuaian diri dengan berbagai keberhasilan dan kegagalan dalam kehidupannya. Lawan dari integritas adalah keputusasaan tertentu dalam menghadapi perubahan-perubahan siklus kehidupan individu, terhadap kondisi-kondisi sosial dan historis, ditambah dengan kefanaan hidup menjelang kematian.
Kondisi ini dapat memperburuk perasaan bahwa kehidupan ini tidak berarti, bahwa ajal sudah dekat, dan ketakutan akan kematian. Seseorang yang dapat menangani masalah yang timbul pada tahap kehidupan sebelumnya, maka dia akan mendapatkan perasaan yang utuh atau integritas. Sebaliknya seorang yang berusia tua melakukan peninjauan kembali terhadap kehidupannya yang silam dengan penuh penyesalan, menilai kehidupannya sebagai rangkaian yang hilangnya kesempatan dan kegagalan, maka pada tahun-tahun akhir kehidupan ini merupakan tahun-tahun yang penuh dengan keputus asaan.
Pertemuan antara integritas dan keputusasaan yang terjadi pada tahap kehidupan yang terakhir ini menghasilkan kebijaksanaan. Kebijaksanaan yang sederhana akan menjaga dan dan memberikan integritas pada pengalaman-pengalaman yang diperoleh pada tahun-tahun yang silam. Mereka yang berada pada tahap kebijaksanaan dapat menyajikan kepada generasi-generasi yang lebih muda suatu gaya hidup yang bercirikan suatu perasaan tentang keutuhan dan keparipurnaan. Perasaan keutuhan ini dapat meniadakan perasaan putus asa dan muak, serta perasaan berakhir ketika situasi-situasi kehidupan kini berlalu. Persaan tentang keutuhan juga akan mengurangi perasaan tak berdaya dan ketergantungan yang biasa menandai akhir kehidupan.
C. Krakteristik Dewasa Madya


Ada beberapa karakteristik dewasa madya, antara lain :

1. Masa yg ditakuti

Selain masa tua (old age), masa dewasa madya juga merupakan masa yang sangat ditakuti datangnya oleh kebanyakan individu, sehingga seolah-olah mereka ingin mengerem laju pertambahan usia mereka. Diakui bahwa semakin mendekati usia tua, periode usia madya semakin lebih terasa menakutkan. Pria dan wanita banyak mempunyai alasan untuk takut memasuki usia madya.[8]

Diantaranya adalah banyaknya stereotip yang tidak menyenangkan tentang usia madya, yaitu  kepercayaan tradisional tentang kerusakan mental dan fisik yang diduga disertai dengan berhentinya reproduksi. Pada masyarakat modern seperti Eropa ketakutan lebih terasa, karena penghormatan terhadap orang tua sudah mulai luntur.[9] Umumnya mereka (individu dewasa madya) merasa tidak lagi menarik secara seksual bagi suami mereka, sehingga muncul kekhawatiran “akan kehilangan” suami dan kondisi ini selain dapat mengakibatkan para istri begitu mengharapkan suaminya bersikap seperti ketika masih pengantin baru, juga munculnya rasa cemburu yang kadang cenderung berlebihan, bila melihat suaminya berkomunikasi dengan perempuan yang lebih muda usianya.[10]

Biasanya di usia-usia ini, suami mereka mulai lebih berkonsentrasi pada karier dan peningkatan kariernya, sehingga mereka semakin merasa kesepian dan “diabaikan”. Perasaan-perasaan negatif ini bila tidak segera dicari pemecahannya dapat mengakibatkan para istri mengalami depresi. Bagi pria, masa dewasa madya merupakan usia yang mengandung arti menurunnya kemampuan fisik secara menyeluruh, termasuk berkurangnya vitalitas seksual. Sebagian kaum pria yang mengalami tanda-tanda terjadinya penurunan kemampuan seksual ini, akan mengalihkan perhatian mereka pada kesibukan bekerja demi meningkatkan prestasi dan memenuhi kebutuhan hidup yang semakin meningkat.[11]

Selain masalah seksual, kaum pria yang telah memasuki usia dewasa madya, ada juga yang ingin menutupi “kelemahan” fisiknya dengan melakukan aktivitas fisik berlebihan, dan cenderung menolak bantuan dari mereka yang lebih muda. Pada sebagian yang lain, justru bersikap kompensatif, dalam arti untuk menutupi “kekurangannya” mereka bersikap seperti anak muda dengan lebih memperhatikan penampilan fisik, berdandan sedemikian rupa untuk mencari perhatian dari lawan jenis yang berusia jauh lebih muda. Mereka yang berperilaku seperti ini justru menunjukkan adanya ketidakpercayaan yang cukup besar terhadap daya tarik seksual mereka.

2. Masa Transisi

Seperti juga masa remaja, individu pada masa dewasa madya juga disebut sebagai masa transisi dari masa dewasa awal ke masa dewasa lanjut. Sebagian ciri-ciri fisik dan perilakunya masih memperlihatkan masa dewasa awal, sementara banyak ciri fisik dan perilaku lainnya justru telah menunjukkan ciri-ciri orang dewasa lanjut. Kondisi transisi ini menyebabkan mereka harus banyak melakukan penyesuaian terhadap peran-peran baru yang diberikan oleh masyarakat. Selain itu, masyarakat juga mengharapkan mereka untuk dapat berpikir dan berperilaku sesuai dengan usianya. Pada masa ini individu tidak lagi dipandang sebagai orang dewasa muda tetapi sudah menjadi seorang individu yang dituakan.

3. Masa Penyesuaian Kembali

Memasuki usia dewasa madya, cepat atau lambat individu harus mengadakan penyesuaian kembali terhadap perubahan-perubahan yang dialaminya, baik fisik maupun peranan. Penyesuaian terhadap perubahan peranan, biasanya akan terasa lebih sulit dilakukan bila dibandingkan dengan penyesuaian terhadap berubahnya kondisi fisik. Misalnya kaum pria yang mengalami masa pensiun, atau kaum perempuan yang mengalami perubahan peran sebagai ibu dengan anak-anak yang akan mulai memasuki kehidupan baru.

4. Masa Stres

Bahwa usia ini merupakan masa stres. Penyesuaian secara radikal terhadap peran dan pola hidup yang berubah menjadikan stress. Khususnya bila disertai dengan berbagai perubahan fisik, selalu cenderung merusak nomeostatis fisik dan psikologis dan membawa ke masa stress, suatu masa bila sejumlah penyesuaian yang pokok harus dilakukan di rumah, bisnis dan aspek sosial kehidupan mereka.

5. Usia yang berbahaya

Yang dimaksud dengan usia berbahaya adalah dalam hal kehidupan seksualnya, terutama dengan istrinya. Juga dalam hal-hal yang berhubungan dengan segala aspek kehidupan lainnya, seperti kondisi fisik yang mulai rentan terhadap penyakit, juga kondisi psikologis yang relatif menjadi lebih peka, dalam arti mudah tersinggung, tertekan, stress, hingga depresi.

Dalam hal-hal yang berhubungan dengan masalah seksual, tidak jarang terjadi para suami yang mulai merasa “bosan” dengan istrinya, sehingga mulai menyeleweng, atau pun menceraikan istrinya untuk kawin lagi dengan perempuan lain yang kadang-kadang seusia dengan anak gadisnya. Adapun untuk hal-hal yang lain, individu usia dewasa madya, relatif lebih sering mengalami gangguan fisik maupun mental, bahkan pada orang-orang tertentu dapat mengakibatkan bunuh diri.

6. Usia Canggung

Sama seperti pada remaja, bukan anak-anak bukan juga dewasa. Demikian juga pada pria dan wanita berusia madya. Mereka bukan muda lagi, tetapi juga bukan tua. Individu pada masa ini seolah-olah berada di antara generasi muda dan juga generasi tua (senior). Pada sebagian individu kondisi ini mengakibatkan mereka ingin menutupi ketuaan dengan berbagai cara dan sejauh mungkin berusaha untuk tidak tampak tua, misalnya dalam hal pemilihan busana, berdandan/ pemakaian kosmetik dsb. Kadang-kadang apabila individu agak berlebihan di dalam menampilkan busana dan dandanan yang bertujuan untuk menutupi ketuaannya, maka hal ini justru menyebabkan mereka tampak janggal, sehingga terlihat kaku/canggung.
7.  Masa Berprestasi

Berprestasi pada usia dewasa madya menurut Werner merupakan suatu gambaran yang positif dari seorang individu. Seorang individu yang telah bekerja keras untuk sukses pada usia sebelumnya akan mencapai puncak karier pada masa ini. Pada usia 40 tahun pada orang-orang normal telah memiliki pengalaman yang cukup dalam pendidikan dan pergaulan, sehingga mereka telah memiliki sikap yang pasti serta nilai-nilai tentang hubungan sosial yang berkembang secara baik. Kondisi keuangan dan kedudukan sosial mereka biasanya telah mapan, serta mereka telah memiliki pandangan yang jelas tentang masa depan dan tujuan yang ingin dicapai. Apabila situasi ini diikuti dengan kondisi fisik yang prima, maka mereka dapat menyatakan bahwa hidup dimulai di usia 40 tahun.

8. Masa Keseimbangan dan Ketidakseimbangan

Pengertian keseimbangan mengacu pada kemampuan penyesuaian terhadap terjadinya perubahan-perubahan fisik dan psikologis yang dilakukan orang-orang dewasa madya. Keseimbangan ini dapat dicapai bila ada penyesuaian secara menyeluruh terhadap pola-pola kehidupannya. Mereka yang mampu mencapai keseimbangan akan merasakan kehidupan yang tenang, tenteram dan damai di rumah, sehingga tidak suka “keluyuran”/ buang-buang waktu di luar rumah untuk kegiatan yang tidak berguna. Ketidakseimbangan artinya adalah terjadinya kegoncangan, atau gangguan penyesuaian yang dialami individu pada masa ini, baik yang bersifat internal maupun eksternal, termasuk dengan pasangan hidupnya. Mereka yang tidak mampu mencapai keseimbangan ini akan merasa tidak betah di rumah, dan cenderung ingin “lari” dari rumah untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan fisik dan psikologis yang tidak diperoleh di rumahnya.

9. Masa Evaluasi

Selama akhir tiga puluhan dan awal empat puluhan adalah umum bagi pria untuk melihat kembali apa saja yang telah dicapainya dalam kehidupan ini. Baik dilihat dari segi fisik maupun nonfisik.

10. Masa Sepi

        Dimana masa ketika anak-anak tidak lagi tinggal bersama orang tua. Contohnya anak yang mulai beranjak dewasa yang telah bekerja dan tinggal di luar kota sehingga orang tua yang terbiasa dengan kehadiran mereka di rumah akan merasa kesepian dengan kepergian mereka.

11.  Masa Jenuh

          Banyak pria atau wanita yang memasuki masa ini mengalami kejenuhan yakni pada sekitar usia 40 akhir. Para pria merasa jenuh dengan kegiatan rutinitas sehari-hari dan kehidupan keluarga yang hanya sedikit memberi hiburan. Wanita yang menghabiskan waktunya untuk memelihara rumah dan membesarkan anak-anak mereka. Sehingga ada yang merasa kehidupannya tidak ada variasi dan monoton yang membuat mereka merasa jenuh.



D. Tugas-Tugas Perkembangan


Menurut Havighurst, tugas perkembangan adalah tugas-tugas yang harus diselesaikan individu pada fase-fase atau periode kehidupan tertentu, dan apabila berhasil mencapainya mereka akan berbahagia, tetapi sebaliknya apabila mereka gagal akan kecewa dan dicela orang tua atau masyarakat dan perkembangan selanjutnya juga akan mengalami kesulitan

Masa usia madya/masa dewasa madya.

Tugas-tugasnya antara lain :

*Menerima dan menyesuaikan diri terhadap perubahan fisik dan fisiologis.

*Menghubungkan diri sendiri dengan pasangan hidup sebagai individu.

*Membantu anak-anak remaja belajar menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan berbahagia.

*Mencapai dan mempertahankan prestasi yang memuaskan dalam karir pekerjaan.

*Mengembangkan kegiatan-kegiatan pengisi waktu senggang yang dewasa.

*Mencapai tanggung jawab sosial dan warga Negara secara penuh.


BAB III
PENUTUP
 A. KESIMPULAN

Dari argument diatas dapat disimpulkan bahwa Masa dewasa madya adalah berlangsung dari umur empat puluh sampai enam puluh tahun. Ciri-ciri yang menyangkut pribadi dan sosial antara lain; masa dewasa madya merupakan masa transisi, dimana pria dan wanita meninggalkan ciri-ciri jasmani dan perilaku masa dewasanya dan memasuki suatu priode dalam kehidupan dengan ciri-ciri jasmani dan perilaku yang baru. dan mental, penurunan kekuatan fisik dan diikuti oleh penurunan daya ingat. Perkembangan yang terjadi pada masa dewasa madya dari aspek fisik diantaranya, terjadinya perubahan dalam penampilan, perubahan dalam kemampuan indera, perubahan pada keberfungsian fisiologis, perubahan pada kesehatan dan perubahan pada seksual.
Selama masa dewasa, dunia sosial dan personal dari individu menjadi lebih luas dan kompleks dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Penyesuaian sosial pada setiap tahap usia ditentukan oleh dua faktor. Pertama adalah sejauh mana seseorang dapat memainkan peran sosial secara tepat sesuai dengan apa yang diharapkannya. Kedua adalah sejauh mana seseorang memainkan salah satu peran penting dalam mengembangkan tugas seseorang selama usia madya untuk mencapai tanggung jawab sebagai warga Negara dan tanggung jawab sosial.


B. SARAN

Dalam makalah ini kami membahas tentang dewasa madya 40-60 tahun. Berdasarkan kesimpulan di atas . Penulis menyadari, bahwa dalam makalah ini masih banyak terdapat kekurangan. Oleh karena itu, kritikan dan saran sangat kami harapkan, guna perbaikan makalah kami di masa yang akan datang.




DAFTAR PUSTAKA

Bintusy Syathi, 1997. Maqal fi al-Insan (Tahapan Perkembangan Manusia). Yogyakarta : LKPSM.

Desmita, 2013. Psikologi Perkembangan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

B. Hurlock Elizabeth, 1980. Psikologi Perkembangan, Jakarta: Erlangga.

Zan Pieter, Heri, Namora Lumongga Lubis, 2010. Pengantar Psikologi untuk Kebidanaan, Jakarta: Prenada Media Group.

http://hijricahayailmu.blogspot.com/2010/12/ilmu-pskologi.html di akses pada 11 Desember 2018 jam 17 : 05













[1] Masganti, Sit, Psikologi Agama, (Medan: Perdana Publising, 2011), hal. 81
,[2] Bintusy Syathi’, Maqal fi al’Insan (Tahapan Perkembangan Manusia, (Yoyakarta:  LKPSM, 1997), hal.102
[3] Sunardi Nur, Psikologi Agama , Jakarta: PT Raja Grafindo, 2007), hal. 105
[4] Ibid, hal.105-107
[5] Sunardi Nur, Psikologi Agama, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), hal. 109
[6] Shafi dan Subandi, Membangun Pradigma Psikologi  Islam, (Yogyakarta: Siprees, 1996), hal. 105
[7] Desmita, Psikologi Perkembangan, (Bandung: Rosda, 2005), hal. 235
[8] Elizabeth, Psikologi Perkembangan, (Jakarta: Erlangga, 1980), hal.329
[9] Desmita, Psikologi Perkembangan, (Bandung: Rosda, 2005), hal.235
[10] Elizabeth B Hurlock, Psikologi Perkembangan, Jakarta: Erlangga, 1980), hal.329

0 komentar:

Posting Komentar

 
;
menu autocaristes pas cher | free wordpress themes download | WordPress tutoriels