MAKALAH PSIKOLOGI PERKEMBANGAN
DEWASA MADYA 40-60 TAHUN
UNTUK MEMENUHI SALAH SATU TUGAS
DOSEN PENGAMPU : EFRI MANDASARI, M.PSI

Disusun
o
l
e
h
KELOMPOK
9 :
Mastiani Nur Halimah Ritonga :
0102171026
Nur Aisyah : 0102173209
Rizki Ananda : 0102172073
BIMBINGAN
PENYULUHAN ISLAM
FAKULTAS
DAKWAH DAN KOMUNIKASI ISLAM
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI
SUMATERA
UTARA
MEDAN
2018/2019
KATA PENGANTAR
Bismillahirrohmanirrohiim.
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, inayah, taufik,
dan ilhamnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam
bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat
dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca.
Makalah ini disusun dalam rangka untuk menyelesaikan tugas dari dosen kami ibu
Efri Mandasari M.Psi selaku pengampu materi Psikologi perkembangan.
Harapan
kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para
pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat
lebih baik.
Makalah
ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang kami miliki sangat
kurang. Oleh karena itu kami harapkan kepada pembaca untuk memberikan
masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini. Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu dalam penyusunan makalah ini sehingga dapat terselesaikan,
apabila ada kesalahan dalam penulisan kami mohon maaf. Semoga Allah SWT
senantiasa meridhai kita semua.
Medan, 12
Desember 2018
penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Pada umunya usia madya atau usia
setengah baya dipandang sebagai masa usia antara 40 sampai 60 tahun. Masa
tersebut pada akhirnya ditandai oleh adanya perubahan-perubahan jasmani dan
mental. Pada usia 60 tahun biasanya terjadi penurunan kekuatan fisik, sering
pula diikuti oleh penurunan daya ingat. Walaupun dewasa ini banyak yang
mengalami perubahan-perubahan tersebut lebih lambat daripada masa lalu, namun
garis batas tradisionalnya masih nampak. Meningkatnya kecenderungan untuk pensiun pada usia enam puluhan sengaja atau pun tidak sengaja usia enam puluhan tahun dianggap sebagai
garis batas antara usia madya dengan usia lanjut, jadi batasnya bukan 65 tahun.
Oleh karena usia
madya merupakan periode yang panjang dalam rentang kehidupan manusia, biasanya
usia tersebut dibagi-bagi ke dalam dua sub bagian, yaitu : usia madya dini yang membentang dari usia 40 hingga 50 tahun
dan usia madya lanjut yang berbentang antara 50 sampai 60 tahun. Selama usia
madya lanjut, perubahan fisik dan psikologis yang pertama kali mulai selama
40-an awal menjadi lebih keliatan.
Seperti halnya
periode lain dalam rentang kehidupan berbeda menurut tahap dimana perubahan
fisik yang membedakan usia madya dari masa dewasa dini pada satu batas, dan
usia lanjut di batas lainnya. Menurut pepatah kuno, seperti halnya buah apel,
matangnya pun tidak pada waktu yang sama, ada yang pada bulan Juli dan ada pula
yag pada bulan Oktober. Demikian juga halnya dengan manusia.
Masalah-masalah tertentu yang timbul dalam penyesuaian diri
merupakan ciri dari usia madya pada kebudayaan masa kini. Beberapa dari masalah
tersebut lebih sulit lagi bagi pria, dan
beberapa lainnya lebih sulit bagi wanita. Masalah utama yang harus dipecahkan
dan disesuaikan secara memuaskan selama usia madya mencakup apa saja yang
menjadi tugas-tugas perkembangan selama periode ini.
Pada kebanyakan
orang tanda dari dewasa madya ditandai dengan kemajuan pekerjaan, pekawinan,
meningkatnya ekonomi, aktif untuk mengikuti kegiatan sosial, dan dorongan seks
bertambah sehingga disebut masa puber kedua, mengurangi kegiatan yang banyak
dilakukan secara fisik dan masa break down secara fisik seperti mulai
sakit-sakitan.
Seperti halnya
dengan tugas-tugas perkembangan periode lain, maka tugas-tugas perkembangan
masa dewasa madya tidaklah sepenuhnya dapat dikuasai dalam waktu sama oleh
setiap orang. Hanya beberapa tugas yang bisa dikuasai sepenuhnya. Kondisi ini selalu
bervariasi untuk setiap individu. Kebanyakan tugas-tugas perkembangan usia
dewasa madya ialah persiapan penyesuaian diri dalam mengatur dan menentukan
kebahagiaannyadi masa tua.
Tuga-tugas
perkembangan masa dewasa madya ialah menyesuaikan diri pada perubahan dan
penurunan kondisi fisik, menyesuaikan diri dalam perubahan minat, atau
menyesuaikan diri kepada relasi keluarga dan pasangan hidup.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan dewasa madya ?
2. Bagaimana perkembangan fisik, kognitif, emosi, dan sosial pada masa dewasa madya ?
3. Apa saja karakter usia madya ?
4. Ciri-ciri masa dewasa madya ?
5. Tugas-tugas perkembangan pada masa dewasa madya ?
1. Apa yang dimaksud dengan dewasa madya ?
2. Bagaimana perkembangan fisik, kognitif, emosi, dan sosial pada masa dewasa madya ?
3. Apa saja karakter usia madya ?
4. Ciri-ciri masa dewasa madya ?
5. Tugas-tugas perkembangan pada masa dewasa madya ?
B. Tujuan
1. Untuk mengetahui yang dimaksud dengan dewasa madya
2. Untuk mengetahui bagaimana perkembangan fisik ,emosi, dan sosial
pada masa dewasa madya
3. Untuk mengetahui apa saja yang menjadi karakteristik usia madya
4. Untuk mengetahui ciri-ciri pada usia madya
5. Untuk mengetahui apa saja yang menjadi tugas-tugas perkembangan
pada masa dewasa madya.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Dewasa Madya
Setelah melewati masa prenatal, bayi, anak-anak, dan remaja, maka manusia (individu) akan memasuki masa dewasa. Ada beberapa pendapat para ahli mengenai pengertian dewasa, antara lain :
1). Menurut Elizabeth B.
Hurlock dikutip oleh Dr. Masganti Sit, M.Ag, masa dewasa adalah individu yang
siap menerima kedudukan dalam masyarakat bersama dengan orang dewasa lainnya.[1]
2). Menurut Syathi’ seorang ahli Psikologi, dewasa adalah periode perkembangan yang bermula pada akhir usia belasan tahun atau awal usia dua puluhan tahun dan yang berakhir pada usia tuga puluhan tahun. Ini adalah masa pembentukan kemandirian pribadi dan ekonomi, masa perkembangan karir, dan bagi banyak orang, masa pemilihan pasangan, belajar hidup dengan seseorang secara akrab, memulai keluarga, dan mengasuh anak-anak.[2] . Masa dewasa adalah masa dimana seorang individu memilih nilai-nilai yang menurut dia tepat dan berusaha untuk mempertahankan nilai-nilai yang dipilihnya.[3]
2). Menurut Syathi’ seorang ahli Psikologi, dewasa adalah periode perkembangan yang bermula pada akhir usia belasan tahun atau awal usia dua puluhan tahun dan yang berakhir pada usia tuga puluhan tahun. Ini adalah masa pembentukan kemandirian pribadi dan ekonomi, masa perkembangan karir, dan bagi banyak orang, masa pemilihan pasangan, belajar hidup dengan seseorang secara akrab, memulai keluarga, dan mengasuh anak-anak.[2] . Masa dewasa adalah masa dimana seorang individu memilih nilai-nilai yang menurut dia tepat dan berusaha untuk mempertahankan nilai-nilai yang dipilihnya.[3]
Masa dewasa madya ini berlangsung dari umur empat puluh sampai enam
puluh tahun. Dewasa madya adalah masa transisi seorang individu, dimana pria
dan wanita meninggalkan ciri-ciri jasmani dan perilaku masa dewasanya dan
memasuki suatu periode dalam kehidupan dengan ciri-ciri jasmani dan perilaku
yang baru. Perhatian terhadap agama lebih besar dibandingkan dengan masa
sebelumnya dan kadang-kadang minat dan perhatiannya terhadap agama ini
dilandasi kebutuhan pribadi dan sosial.
Usia dewasa madya atau yang popular dengan istilah setengah baya,
dari sudut posisi usia dan terjadinya perubahan fisik maupun psikologis,
memiliki banyak kesamaan dengan masa remaja. Bila masa remaja merupakan masa
peralihan, dalam arti bukan lagi masa kanak-kanak namun belum bisa disebut
dewasa, maka pada setengah baya, tidak dapat lagi disebut muda, namun juga
belum bisa dikatakan tua.
Secara fisik, pada masa remaja terjadi perubahan yang demikian
pesat (menuju ke arah kesempurnaan/kemajuan) yang berpengaruh pada kondisi
psikologisnya, sedangkan individu setengah baya juga mengalami perubahan
kondisi fisik, namun dalam pengertian terjadi penurunan/kemunduran, yang juga
akan mempengaruhi kondisi psikologisnya.[4]
B. Perkembangan Fisik Dewasa Madya, Emosi, dan Sosial Pada Masa
Dewasa Madya
Pada masa dewasa madya terjadi perubahan fungsi fisik yang tak
mampu berfungsi seperti sedia kala, dan beberapa organ tubuh tertentu mulai
kehilangan (menurun) fungsinya. Melihat dan mendengar merupakan dua perubahan
yang paling menyusahkan paling banyak tampak dalam dewasa tengah. Daya
akomodasi mata untuk memfokuskan dan mempertahankan gambar pada retina akan
mengalami penurunan tajam antara usia 40 tahun keatas. Karena pada usia
tersebut aliran darah pada mata juga berkurang. Pendengaran mungkin juga mulai
menurun pada usia ini yaitu mulai memasuki usia 40.
Meskipun kemampuan untuk mendengar suara-suara bernada rendah tidak
begitu kelihatan. Laki-laki biasanya kehilangan sensitifitasnya terhadap suara
bernada tinggi lebih dahulu daripada perempuan. Hal ini mungkin disebabkan oleh
lebih besarnya pengalaman laki-laki terhadap suaru gaduh dalam pekerjaan.[5]
Pada masa ini, baik pria maupun wanita selalu terdapat ketakutan, dimana
penampilannya pada masa ini akan menghambat kemampuannya untuk mempertahankan
pasangan mereka, atau mengurangi daya tarik lawan jenis. Ada beberapa perubahan
yang terjadi pada masa dewasa madya, antara lain :
*Perubahan Fisik, diantara perubahan fisik pada masa ini antara
lain ; tumbuhnya uban, kulit mulai keriput, gigi yang menguning, tulang-tulang
bergeser lebih dekat antara yang satu dengan yang lainnya, sulit melihat
objek-objek yang dekat, penurunan pada sensitivitas pendengaran, menopause
(reproduksi haid akan mulai berhenti), dan lain-lain.[6]
* Perkembangan Kognitif, pada tahap ini perkembangan intelektual dewasa sudah mencapai titik akhir puncaknya yang sama dengan perkembangan tahap sebelumnya. Pada masa ini individu dalam menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu memikirkannya secara teoritis. Ia menganalisis masalahnya dengan penyelesaian berbagai hipotesis yang mungkin ada. Atas dasar analisanya ini, seorang individu kemudian membuat suatu strategi penyelesaian.[7]
* Perkembangan Kognitif, pada tahap ini perkembangan intelektual dewasa sudah mencapai titik akhir puncaknya yang sama dengan perkembangan tahap sebelumnya. Pada masa ini individu dalam menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu memikirkannya secara teoritis. Ia menganalisis masalahnya dengan penyelesaian berbagai hipotesis yang mungkin ada. Atas dasar analisanya ini, seorang individu kemudian membuat suatu strategi penyelesaian.[7]
* Aspek
Perkembangan Emosi
Dalam banyak hal, periode
dewasa madya adalah waktu timbulnya tekanan emosional. Bernice Nengeartein
(Callhoun dan Acocella, l990) mengatakan bahwa peroiode ini merupakan suatu
masa ketika orang dapat merasa puas dengan keberhasilannya. Meskipun bagi orang
lain ada kalanya periode ini justru
merupakan permulaan kemunduran, namun
bagi Erik Erikson (Callhoun dan Acocella, l990)
dalam periode ini individu memiliki antara kearifan dan penyerapan
pribadi. Kearifan yang dimaksud adalah kapasitas untuk mengembangkan perhatian
terhadap orang lain atau masyarakat sekitar. Orang yang gagal mengembangkan
kapasitas kearifan ini mungkin menjadi semakin terserap pada diri mereka
sendiri seperti larut dalam kehidupan duniawi dan bendawi saja.
Teori Erikson ini berpijak pada kenyataan yang dia sinyalir
bahwa dalam setiap tingkat kehidupan selalu dicirikan dengan pilihan-pilihan
antara 2 pendekatan terhadap kehidupan, satu positif dan satunya negatif.
Tampaknya tengah baya merupakan salah
satu waktu dalam hidup seseorang dimana banyak terjadi peristiwa besar yang
memaksanya untuk mengadakan penataan kembali. Penataan kembali itu kiranya
terjadi karena adanya beberapa perubahan besar dalam hal fisiologis,
psikologis, seksual dan perubahan-perubahan sosial yang menyertai ketiga
perubahan itu.
Ada beberapa bahaya personal bagi orang berusia
madya dalam menyesuaikan diri dengan peran dan gaya hidup baru. Dari itu semua,
ada tujuh macam yang dianggap umum dan serius diantaranya sebagi berikut :
1. Diterimanya Kepercayaan Tradisional
Diterimanya kepercayaan
tradisional tentang ciri-ciri usia madya mempunyai pengaruh yang sangat
mendalam terhadap perubahan perilaku fisik yang terjadi seiring dengan
bertambahnya usia. Seseorang yang mengalami menopause misalnya, seiring disebut
sebagai “masa krisis” (critical period), kepercayaan seperti ini dapat menambah
rasa takut yang tidak menentu, seperti dikatakan oleh Parker.
2. Idealisasi Anak Muda
Banyak orang usia madya
khususnya kaum pria secara konstan menentang pengelompokan usia dalam pola
perilaku umum. Seorang pria mungkin akan menolak untuk patuh mengikuti resep
dokter tentang diet atau akan menolak untuk membatasi kegiatan walaupun dengan
alasan kesehatan. Seperti anak yang menjelang usia akil baliq, mereka juga
tidak mau dibatasi perilakunya. Begitu juga orang yang berusia madya, mereka
juga tidak mau dibatasi perilaku dan perilakunya, tetapi masing-masing dari
contoh tersebut mempunyai alasan yang berbeda. Sikap pemberontak seperti itu
berasal dari pengenalan terhadap nilai bahwa masyarakat mengikat anak muda dan
karena itu mereka menentang terhadap setiap bentuk pembatasan, ini berarti
mereka sedang tumbuh menjadi lebih tua. Kondisi yang seperti ini menyebabkan
mereka yang berusia madya menderita biasa atau lebih serius.
3. Perubahan
Peran
Merubah peran bukanlah
masalah yang mudah, terutama setelah seseorang telah memainkan peran tertentu
selama periode waktu yang relatif lama dan telah belajar memperoleh kepuasan
dari peran tersebut. Lebih lanjut, dapat dikatakan bahwa terlalu berhasil dalam
suatu peran nampaknya dapat mengakibatkan kekakuan sehingga proses penyesuaian
terhadap peran lain akan menjadi sulit.
4. Perubahan Keinginan Dan Minat
Bahaya besar dalam
penyesuaian diri seseorang pada masa usia madya timbul karena ia mau tidak mau
harus mengubah keinginan dan minatnya sesuai dengan tingkat ketahanan tubuh dan
kemampuan fisik serta memburuknya tigkat kesehatan fisik. Mereka mau tidak mau
harus mencoba untuk mencari dan mengembangkan keinginan baru sebagai pengganti
keinginan lama yang biasa dilakukan, atau jauh hari sebelum masa madya tiba
mereka telah mengembangkan keinginan baru tersebut yang cukup menarik sehingga
dapat membebaskannya dari perasaan tertekan dan tidak enak karena kehilangan
keinginan yang biasanya dilakukan. Apabila hal ini tidak dilakukan, mereka akan
merasa bosan dan bingung karena mereka tidak tahu bagaimana cara memanfaatkan
waktu yang begitu banyak. Seperti seorang dewasa yang menjadi bosan pada waktu
mereka harus mencari berbagai kegiatan dan keinginan untuk mengisi waktu yang
begitu banyak.
5. Simbol Status
Pada umumnya wanita
semakin tua semakin tertarik pada simbol status yang dapat membahayakan
penyesuaian pribadi dan sosial, apabila keluarga tidak berusaha untuk mencapai
atau memiliki simbol yang diinginkan. Dalam kasus seperti ini, ada tiga reaksi
umum sebagai bagian dari wanita yang sangat membutuhkan simbol tersebut.
Pertama, dia akan mengeluh dan mengomeli suaminya yang tidak dapat menyediakan
cukup uang untuk memperoleh status tersebut. Kedua, dia akan bersikap boros dan
menjerumuskan keluarganya dengan melakukan utang. Ketiga, dia bisa juga berbuat
sesuatu dengan bekerja misalnya agar mempunyai cukup uang demi mencukupi
kebutuhannya. Semua pola respon tersebut merupakan tanda betapa besar keinginan
seseorang untuk memperoleh simbol status. Sikap seperti ini dapat menimbulakn
percekcokan dengan keluarga, terutama perilaku yang ketiga tadi yang menjadikan
banyak pria menjawab dan bersikap tidak menyenangkan. Karena ia sadar hal itu
tidak mungkin ia peroleh.
6. Aspirasi Yang Tidak Realistis
Orang berusia madya yang
mepunyai keinginan yang tidak realistis tentang apa yang ingin dicapai
menghadapi masalah yang serius dalam proses penyesuaian diri dan sosial,
apabila kelak ia menyadari bahwa ia tidak bisa mencapai tujuan tersebut. Sikap
tidak realistis ini sering merupakan faktor bawaan sejak masa remaja. Bahaya
ini merupakan efek langsung bagi pria, sedang bagi wanita merupakan efek tidak
langsung apabila suaminya atau tidak mampu untuk mencapai cita-cita yang
diinginkan.
7.
Perubahan Kepribadian
Sehubungan dengan
hilangnya keperkasaan menyebabkan sejumlah orang usia madya berperilaku hampir
sama dengan orang berusia muda yang sedang menunjukkan kejantanannya. periode
ini bisa menjadi periode yang berbahaya bagi pria-pria, dimana ia masih
mempunyai istri namun terlibat juga dalam urusan cinta dengan perempuan lain.
*Aspek Perkembangan Sosial
Selama masa dewasa, dunia
sosial dan personal dari individu menjadi lebih luas dan kompleks dibandingkan
dengan masa-masa sebelumnya. Penyesuaian sosial pada setiap tahap usia
ditentukan oleh dua faktor. Pertama adalah sejauh mana seseorang dapat
memainkan peran sosial secara tepat sesuai dengan apa yang diharapkannya. Kedua
adalah sejauh mana seseorang memainkan salah satu peran penting dalam
mengembangkan tugas seseorang selama usia madya untuk mencapai tanggung jawab
sebagai warga Negara dan tanggung jawab sosial.
Pada masa dewasa madya ini, individu memasuki peran
kehidupan yang lebih luas. Pola dan tingkah laku sosial orang dewasa berbeda
dalam beberapa hal dari orang yang lebih muda. Perbedaan-perbedaan tersebut
tidak disebabkan oleh perubahan-perubahan fisik dan kognitif yang berkaitan
dengan penuaan, tetapi lebih disebabkan oleh peristiwa-peristiwa kehidupan yang
dihubungkan dengan keluarga dan pekerjaan. Selama periode ini orang melibatkan
diri secara khusus dalam karir, pernikahan, dan hidup berkeluarga. Menurut
Erikson, perkembangan psikososial selama masa dewasa dan tua ini ditandai
dengan tiga gejala penting, yaitu keintiman, genertif dan integritas.
1. Perkembangan Keintiman
Keintiman dapat diartikan
sebagai suatu kemampuan memperhatikan orang lain dan membagi pengalaman dengan
mereka. Orang yang tidak dapat menjalin hubungan intim dengan orang lain akan
terisolasi. Menurut Erikson, pembentukan hubungan intim ini merupakan tantangan
utama yang dihadapi oleh orang yang memasuki masa dewasa. Pada masa dewasa
madya ini, orang-orang telah siap dan ingin menyatukan identitasnya dengan
orang lain. Mereka mendambakan hubungan-hubungan yang intim-akrab, dilandasi
rasa persaudaraan, serta siap mengembangkan daya-daya yang dibutuhkan untuk
memenuhi komitmen-komitmen ini sekalipun mereka mungkin harus berkorban untuk
itu. Dalam suatu studi ditunjukkan bahwa hubungan intim mempunyai pengaruh yang
besar terhadap perkembangan psikologis dan fisik seseorang. Orang-orang yang
mempunyai tempat untuk berbagi ide, perasaan dan masalah, merasa lebih bahagia
dan lebih sehat dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki tempat untuk
berbagi (Traupmann & Hatfield, 1981). Adapun gejala dalam perkembangan
sosial ini adalah menimbulkan cinta dan berujung pada pernikahan.
a. Cinta
Selama tahap perkembangan keintiman ini,
nilai-nilai cinta muncul. Cinta mengacu pada perilaku manusia yang sangat luas
dan kompleks. Menurut Santrock (1995), cinta dapat diklasifikasikan menjadi
empat bentuk cinta, yaitu: altrualisme, persahabatan, cinta yang romantis atau
bergairah, dan cinta yang penuh perasaan atau persahabatan. Meskipun cinta
sudah tampak dalam tahap-tahap sebelumnya (seperti cinta bayi pada ibunya, dan
cinta birahi pada remaja), namun perkembangan cinta dan keintiman cinta sejati
baru muncul setelah seseorang memasuki masa dewasa. Pada masa dewasa ini,
perasaan cinta lebih dari sekedar gairah atau romantisme, melainkan suatu
afeksi cinta yang penuh perasaan dan kasih sayang.
Cinta pada orang dewasa
ini diungkapkan dalam bentuk kepedulian terhadap orang lain. Orang- orang
dewasa awal lebih mampu melibatkan diri dalam hubungan bersama, dimana mereka
saling berbagi hidup dengan seorang mitra yang intim. Suatu tipe cinta yang
paling kuat, atau cinta sempurna hanya akan terbentuk apabila dilandasi oleh
ketiga komponen cinta (gairah, keintiman dan komitmen).
b. Pernikahan dan Keluarga
Agar memiliki arti sosial
yang menetap, maka genelitas membutuhkan seseorang yang dicintai dan dapat
diajak melakukan hubungan seksual, serta dapat berbagi rasa dalam suatu
hubungan kepercayaan. Hampir setiap masyarakat, hubungan seksual dan keintiman
pada masa dewasa awal ini diperoleh melalui lembaga pernikahan atau perkawinan.
Meskipun konsep dan definisi orang tentang perkawinan pada setiap kebudayaan
dan suku bangsa tidak sama, namun hampir setiap budaya dan suku bangsa agaknya
mempunyai pandangan yang sama bahwa perkawinan merupakan sesuatu yang bersifat
suci dan dibutuhkan dalam kehidupan ini. Meskipun belakangan ini kecenderungan
orang dewasa untuk hidup membujang meningkat dan perceraian sering terjadi,
namun orang Amerika masih menunjukkan kecenderungan yang kuat untuk menikah.
Setiap individu cenderung
mencari pasangan hidup yang mempunyai latar belakang etnik, sosial dan agama
yang sama. Bertentangan dengan pendapat umum, kaum perempuan tampaknya kurang
romantis dibandingkan dengan laki-laki dalam usaha pendekatan memilih pasangan
mereka. Laki-laki cenderung lebih cepat jatuh cinta dari pada perempuan dan
merasa puas dengan kualitas calon pasangan mereka. Sebaliknya, perempuan lebih
praktis dan berhati-hati dalam menentukan pasangan dan lebih mungkin untuk
membandingkan calon pasangannya dengan alternatif lainnya. Dalam penelitian
nasional yang dilakukan Elizabeth Douvan dan teman-temannya, dilaporkan bahwa
hampir 60 % pria dan wanita dari seluruh partisipan mengaku bahwa kadang-kadang
mereka megalami berbagai problem dalam kehidupan perkawinan mereka.
Problem-problem perkawinan ini disebabkan oleh beberapa faktor :
1. Pasangan gagal mempertemukan dan menyesuaikan
kebutuhan dan harapan satu sama lain.
2. Salah satu pasangan mengalami kesulitan menerima
perbedaan-perbedaan nyata dalam kebiasaan kebutuhan, pendapat, kerugian dan
nilai. Problem yang saling mencolok ialah masalah keuangan dan anak-anak.
3. Adanya perasaan cemburu dan perasaan memiliki
yang berlebihan, membuat masing-masing merasa kurang mendapat kebebasan,
4. Pembagian tugas dan wewenang yang tidak adil,
kegagalan dalam berkomunikasi dan masing-masing pasangan tumbuh dan berkembang
ke arah yang berbeda, tidak sejalan mencari minat dan tujuan sendiri-sendiri
(Davidoff,1998).
2. Perkembangan
Generativitas
Generativitas
(Generativity), adalah tahap perkembangan psikososial ketujuh yang dialami
individu selama pertengahan masa dewasa. Ciri utama tahap generativitas adalah
perhatian terhadap apa yang dihasilkan (keturunan, produk-produk, ide-ide dan
sebagainya), serta pembentukan dan penetapan garis-garis pedoman untuk generasi
mendatang. Transmisi nilai-nilai soaial ini diperlukan untuk memperkaya aspek
psikoseksual dan aspek psikososial kepribadian. Apabila generativitas lemah
atau tidak diungkapkan, maka kepribadian akan mundur, mengalami pemiskinan, dan
stagnasi.
Bagi kebanyakan orang,
usia antara 40-50 tahun merupakan masa paling produktif. Laki-laki dalam usia
40-an biasanya berada pada puncak karir mereka. Pada usia ini, perempuan
mempunyai lebih sedikit tanggung jawab di rumah karena anak-anak telah besar
dan dapat mencurahkan lebih banyak waktu untuk karir atau kegiatan sosial.
Kelompok ini merupakan kelompok usia yang sesungguhnya mengatur masyarakat,
baik dalam hal kekuasaan maupun tanggung jawab.
Generitivitas pada masa
usia baya ini ialah suatu rasa kekhawatiran mengenai bimbingan dan persiapan
bagi generasi yang akan datang. Jadi pada tahap ini, nilai pemeliharaan
berkembang. Pemeliharaan terungkap dalam kepedulian seseorang pada orang-orang
lain, dalam keinginan memberikan perhatian pada mereka yang membutuhkannya
serta berbagi dan membagi pengetahuan serta pengalaman dengan mereka. Nilai
pemeliharaan ini tercapai lewat kegiatan membesarkan anak dan mengajar, memberi
contoh dan mengontrol.
3. Perkembangan Integritas
Integritas (Integrity)
merupakan tahap perkembangan psikososial Erikson yang terakhir. Integritas
paling tepat dilukiskan sebagai suatu keadaan yang dicapai seseorang setelah
memelihara benda-benda, orang-orang, produk-produk dan ide-ide serta setelah
berhasil melakukan penyesuaian diri dengan berbagai keberhasilan dan kegagalan
dalam kehidupannya. Lawan dari integritas adalah keputusasaan tertentu dalam
menghadapi perubahan-perubahan siklus kehidupan individu, terhadap
kondisi-kondisi sosial dan historis, ditambah dengan kefanaan hidup menjelang
kematian.
Kondisi ini dapat
memperburuk perasaan bahwa kehidupan ini tidak berarti, bahwa ajal sudah dekat,
dan ketakutan akan kematian. Seseorang yang dapat menangani masalah yang timbul
pada tahap kehidupan sebelumnya, maka dia akan mendapatkan perasaan yang utuh
atau integritas. Sebaliknya seorang yang berusia tua melakukan peninjauan
kembali terhadap kehidupannya yang silam dengan penuh penyesalan, menilai
kehidupannya sebagai rangkaian yang hilangnya kesempatan dan kegagalan, maka
pada tahun-tahun akhir kehidupan ini merupakan tahun-tahun yang penuh dengan
keputus asaan.
Pertemuan antara
integritas dan keputusasaan yang terjadi pada tahap kehidupan yang terakhir ini
menghasilkan kebijaksanaan. Kebijaksanaan yang sederhana akan menjaga dan dan
memberikan integritas pada pengalaman-pengalaman yang diperoleh pada
tahun-tahun yang silam. Mereka yang berada pada tahap kebijaksanaan dapat
menyajikan kepada generasi-generasi yang lebih muda suatu gaya hidup yang
bercirikan suatu perasaan tentang keutuhan dan keparipurnaan. Perasaan keutuhan
ini dapat meniadakan perasaan putus asa dan muak, serta perasaan berakhir
ketika situasi-situasi kehidupan kini berlalu. Persaan tentang keutuhan juga
akan mengurangi perasaan tak berdaya dan ketergantungan yang biasa menandai
akhir kehidupan.
C. Krakteristik Dewasa Madya
Ada beberapa karakteristik dewasa madya, antara lain :
1. Masa yg ditakuti
Selain masa tua (old age), masa dewasa madya juga merupakan masa
yang sangat ditakuti datangnya oleh kebanyakan individu, sehingga seolah-olah
mereka ingin mengerem laju pertambahan usia mereka. Diakui bahwa semakin
mendekati usia tua, periode usia madya semakin lebih terasa menakutkan. Pria
dan wanita banyak mempunyai alasan untuk takut memasuki usia madya.[8]
Diantaranya adalah banyaknya stereotip yang tidak menyenangkan
tentang usia madya, yaitu kepercayaan
tradisional tentang kerusakan mental dan fisik yang diduga disertai dengan
berhentinya reproduksi. Pada masyarakat modern seperti Eropa ketakutan lebih
terasa, karena penghormatan terhadap orang tua sudah mulai luntur.[9]
Umumnya mereka (individu dewasa madya) merasa tidak lagi menarik secara seksual
bagi suami mereka, sehingga muncul kekhawatiran “akan kehilangan” suami dan
kondisi ini selain dapat mengakibatkan para istri begitu mengharapkan suaminya
bersikap seperti ketika masih pengantin baru, juga munculnya rasa cemburu yang
kadang cenderung berlebihan, bila melihat suaminya berkomunikasi dengan perempuan
yang lebih muda usianya.[10]
Biasanya di usia-usia ini, suami mereka mulai lebih berkonsentrasi
pada karier dan peningkatan kariernya, sehingga mereka semakin merasa kesepian
dan “diabaikan”. Perasaan-perasaan negatif ini bila tidak segera dicari
pemecahannya dapat mengakibatkan para istri mengalami depresi. Bagi pria, masa
dewasa madya merupakan usia yang mengandung arti menurunnya kemampuan fisik
secara menyeluruh, termasuk berkurangnya vitalitas seksual. Sebagian kaum pria
yang mengalami tanda-tanda terjadinya penurunan kemampuan seksual ini, akan
mengalihkan perhatian mereka pada kesibukan bekerja demi meningkatkan prestasi
dan memenuhi kebutuhan hidup yang semakin meningkat.[11]
Selain masalah seksual, kaum pria yang telah memasuki usia dewasa
madya, ada juga yang ingin menutupi “kelemahan” fisiknya dengan melakukan
aktivitas fisik berlebihan, dan cenderung menolak bantuan dari mereka yang
lebih muda. Pada sebagian yang lain, justru bersikap kompensatif, dalam arti
untuk menutupi “kekurangannya” mereka bersikap seperti anak muda dengan lebih
memperhatikan penampilan fisik, berdandan sedemikian rupa untuk mencari
perhatian dari lawan jenis yang berusia jauh lebih muda. Mereka yang
berperilaku seperti ini justru menunjukkan adanya ketidakpercayaan yang cukup
besar terhadap daya tarik seksual mereka.
2. Masa Transisi
Seperti juga masa remaja, individu pada masa dewasa madya juga
disebut sebagai masa transisi dari masa dewasa awal ke masa dewasa lanjut.
Sebagian ciri-ciri fisik dan perilakunya masih memperlihatkan masa dewasa awal,
sementara banyak ciri fisik dan perilaku lainnya justru telah menunjukkan
ciri-ciri orang dewasa lanjut. Kondisi transisi ini menyebabkan mereka harus
banyak melakukan penyesuaian terhadap peran-peran baru yang diberikan oleh
masyarakat. Selain itu, masyarakat juga mengharapkan mereka untuk dapat
berpikir dan berperilaku sesuai dengan usianya. Pada masa ini individu tidak
lagi dipandang sebagai orang dewasa muda tetapi sudah menjadi seorang individu
yang dituakan.
3. Masa Penyesuaian Kembali
Memasuki usia dewasa madya, cepat atau lambat individu harus
mengadakan penyesuaian kembali terhadap perubahan-perubahan yang dialaminya,
baik fisik maupun peranan. Penyesuaian terhadap perubahan peranan, biasanya
akan terasa lebih sulit dilakukan bila dibandingkan dengan penyesuaian terhadap
berubahnya kondisi fisik. Misalnya kaum pria yang mengalami masa pensiun, atau
kaum perempuan yang mengalami perubahan peran sebagai ibu dengan anak-anak yang
akan mulai memasuki kehidupan baru.
4. Masa Stres
Bahwa usia ini merupakan masa stres. Penyesuaian secara radikal
terhadap peran dan pola hidup yang berubah menjadikan stress. Khususnya bila
disertai dengan berbagai perubahan fisik, selalu cenderung merusak nomeostatis
fisik dan psikologis dan membawa ke masa stress, suatu masa bila sejumlah
penyesuaian yang pokok harus dilakukan di rumah, bisnis dan aspek sosial
kehidupan mereka.
5. Usia yang berbahaya
Yang dimaksud dengan usia berbahaya adalah dalam hal kehidupan
seksualnya, terutama dengan istrinya. Juga dalam hal-hal yang berhubungan
dengan segala aspek kehidupan lainnya, seperti kondisi fisik yang mulai rentan
terhadap penyakit, juga kondisi psikologis yang relatif menjadi lebih peka,
dalam arti mudah tersinggung, tertekan, stress, hingga depresi.
Dalam hal-hal yang berhubungan dengan masalah seksual, tidak jarang
terjadi para suami yang mulai merasa “bosan” dengan istrinya, sehingga mulai
menyeleweng, atau pun menceraikan istrinya untuk kawin lagi dengan perempuan
lain yang kadang-kadang seusia dengan anak gadisnya. Adapun untuk hal-hal yang
lain, individu usia dewasa madya, relatif lebih sering mengalami gangguan fisik
maupun mental, bahkan pada orang-orang tertentu dapat mengakibatkan bunuh diri.
6. Usia Canggung
Sama seperti pada remaja, bukan anak-anak bukan juga dewasa.
Demikian juga pada pria dan wanita berusia madya. Mereka bukan muda lagi,
tetapi juga bukan tua. Individu pada masa ini seolah-olah berada di antara
generasi muda dan juga generasi tua (senior). Pada sebagian individu kondisi
ini mengakibatkan mereka ingin menutupi ketuaan dengan berbagai cara dan sejauh
mungkin berusaha untuk tidak tampak tua, misalnya dalam hal pemilihan busana,
berdandan/ pemakaian kosmetik dsb. Kadang-kadang apabila individu agak
berlebihan di dalam menampilkan busana dan dandanan yang bertujuan untuk
menutupi ketuaannya, maka hal ini justru menyebabkan mereka tampak janggal,
sehingga terlihat kaku/canggung.
7. Masa Berprestasi
7. Masa Berprestasi
Berprestasi pada usia dewasa madya menurut Werner merupakan suatu
gambaran yang positif dari seorang individu. Seorang individu yang telah
bekerja keras untuk sukses pada usia sebelumnya akan mencapai puncak karier
pada masa ini. Pada usia 40 tahun pada orang-orang normal telah memiliki
pengalaman yang cukup dalam pendidikan dan pergaulan, sehingga mereka telah
memiliki sikap yang pasti serta nilai-nilai tentang hubungan sosial yang
berkembang secara baik. Kondisi keuangan dan kedudukan sosial mereka biasanya
telah mapan, serta mereka telah memiliki pandangan yang jelas tentang masa
depan dan tujuan yang ingin dicapai. Apabila situasi ini diikuti dengan kondisi
fisik yang prima, maka mereka dapat menyatakan bahwa hidup dimulai di usia 40
tahun.
8. Masa Keseimbangan dan Ketidakseimbangan
Pengertian keseimbangan mengacu pada kemampuan penyesuaian terhadap
terjadinya perubahan-perubahan fisik dan psikologis yang dilakukan orang-orang
dewasa madya. Keseimbangan ini dapat dicapai bila ada penyesuaian secara
menyeluruh terhadap pola-pola kehidupannya. Mereka yang mampu mencapai
keseimbangan akan merasakan kehidupan yang tenang, tenteram dan damai di rumah,
sehingga tidak suka “keluyuran”/ buang-buang waktu di luar rumah untuk kegiatan
yang tidak berguna. Ketidakseimbangan artinya adalah terjadinya kegoncangan,
atau gangguan penyesuaian yang dialami individu pada masa ini, baik yang
bersifat internal maupun eksternal, termasuk dengan pasangan hidupnya. Mereka
yang tidak mampu mencapai keseimbangan ini akan merasa tidak betah di rumah,
dan cenderung ingin “lari” dari rumah untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan fisik
dan psikologis yang tidak diperoleh di rumahnya.
9. Masa Evaluasi
Selama akhir tiga puluhan dan awal empat puluhan adalah umum bagi
pria untuk melihat kembali apa saja yang telah dicapainya dalam kehidupan ini.
Baik dilihat dari segi fisik maupun nonfisik.
10. Masa Sepi
Dimana masa ketika anak-anak tidak lagi tinggal bersama orang tua.
Contohnya anak yang mulai beranjak dewasa yang telah bekerja dan tinggal di
luar kota sehingga orang tua yang terbiasa dengan kehadiran mereka di rumah
akan merasa kesepian dengan kepergian mereka.
11. Masa Jenuh
Banyak pria atau wanita yang memasuki masa ini mengalami kejenuhan
yakni pada sekitar usia 40 akhir. Para pria merasa jenuh dengan kegiatan
rutinitas sehari-hari dan kehidupan keluarga yang hanya sedikit memberi hiburan.
Wanita yang menghabiskan waktunya untuk memelihara rumah dan membesarkan
anak-anak mereka. Sehingga ada yang merasa kehidupannya tidak ada variasi dan
monoton yang membuat mereka merasa jenuh.
D. Tugas-Tugas Perkembangan
Menurut Havighurst, tugas perkembangan
adalah tugas-tugas yang harus diselesaikan individu pada fase-fase atau periode
kehidupan tertentu, dan apabila berhasil mencapainya mereka akan berbahagia,
tetapi sebaliknya apabila mereka gagal akan kecewa dan dicela orang tua atau
masyarakat dan perkembangan selanjutnya juga akan mengalami kesulitan
Masa usia madya/masa dewasa madya.
Tugas-tugasnya antara lain :
*Menerima dan menyesuaikan diri terhadap perubahan fisik dan
fisiologis.
*Menghubungkan diri sendiri dengan pasangan hidup sebagai individu.
*Membantu anak-anak remaja belajar menjadi orang dewasa yang
bertanggung jawab dan berbahagia.
*Mencapai dan mempertahankan prestasi yang memuaskan dalam karir
pekerjaan.
*Mengembangkan kegiatan-kegiatan pengisi waktu senggang yang dewasa.
*Mencapai tanggung jawab sosial dan warga Negara secara penuh.
BAB
III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari argument diatas dapat disimpulkan bahwa Masa dewasa madya adalah berlangsung dari umur empat puluh sampai
enam puluh tahun. Ciri-ciri yang menyangkut pribadi dan sosial antara lain;
masa dewasa madya merupakan masa transisi, dimana pria dan wanita meninggalkan
ciri-ciri jasmani dan perilaku masa dewasanya dan memasuki suatu priode dalam
kehidupan dengan ciri-ciri jasmani dan perilaku yang baru. dan mental, penurunan kekuatan fisik dan diikuti
oleh penurunan daya ingat. Perkembangan yang terjadi pada masa dewasa madya
dari aspek fisik diantaranya, terjadinya perubahan dalam penampilan, perubahan
dalam kemampuan indera, perubahan pada keberfungsian fisiologis, perubahan pada
kesehatan dan perubahan pada seksual.
Selama masa dewasa, dunia
sosial dan personal dari individu menjadi lebih luas dan kompleks dibandingkan
dengan masa-masa sebelumnya. Penyesuaian sosial pada setiap tahap usia
ditentukan oleh dua faktor. Pertama adalah sejauh mana seseorang dapat
memainkan peran sosial secara tepat sesuai dengan apa yang diharapkannya. Kedua
adalah sejauh mana seseorang memainkan salah satu peran penting dalam
mengembangkan tugas seseorang selama usia madya untuk mencapai tanggung jawab
sebagai warga Negara dan tanggung jawab sosial.
B.
SARAN
Dalam makalah ini kami membahas tentang dewasa madya
40-60 tahun. Berdasarkan kesimpulan di atas . Penulis menyadari, bahwa
dalam makalah ini masih banyak terdapat kekurangan. Oleh karena itu, kritikan
dan saran sangat kami harapkan, guna perbaikan makalah kami di masa yang akan
datang.
DAFTAR
PUSTAKA
Bintusy
Syathi, 1997. Maqal fi al-Insan (Tahapan Perkembangan Manusia).
Yogyakarta : LKPSM.
Desmita, 2013. Psikologi Perkembangan, Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.
B. Hurlock Elizabeth, 1980. Psikologi Perkembangan,
Jakarta: Erlangga.
Zan Pieter, Heri, Namora Lumongga Lubis, 2010.
Pengantar Psikologi untuk Kebidanaan, Jakarta: Prenada Media Group.
http://hijricahayailmu.blogspot.com/2010/12/ilmu-pskologi.html di akses pada 11 Desember 2018 jam 17 : 05
https://makalah4you.wordpress.com/2011/10/07/makalah-perkembangan-pada-masa-dewasa/ di akses pada 11 Desember 2018 jam 17 : 25.
[1] Masganti, Sit,
Psikologi Agama, (Medan: Perdana Publising, 2011), hal. 81
[3]
Sunardi Nur, Psikologi
Agama , Jakarta: PT Raja Grafindo, 2007), hal. 105
[4]
Ibid, hal.105-107
[5] Sunardi Nur, Psikologi
Agama, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), hal. 109
[6]
Shafi dan
Subandi, Membangun Pradigma Psikologi
Islam, (Yogyakarta: Siprees, 1996), hal. 105
[7]
Desmita, Psikologi
Perkembangan, (Bandung: Rosda, 2005), hal. 235
[8]
Elizabeth, Psikologi
Perkembangan, (Jakarta: Erlangga, 1980), hal.329
[9]
Desmita, Psikologi
Perkembangan, (Bandung: Rosda, 2005), hal.235
[10] Elizabeth B
Hurlock, Psikologi Perkembangan, Jakarta: Erlangga, 1980), hal.329



0 komentar:
Posting Komentar