Hello Guys.. Welcome to my blog.. :-)

Selasa, 19 Mei 2020 0 komentar

TAK SEINDAH LEBARAN KEMARIN

Hello  guys... Kali ini saya mau curhat mengenai lebaran tahun ini.. Barangkali ada yang sama kayak saya, apa yang saya rasakan saat ini..  Ini curhatan pertama saya di blog ini.. Sorry kalo curhatnya gak penting-penting kali.. Heheheh..  

       Gak terasa yaa udah mau lebaran, tinggal menghitung hari, biasanya seminggu lagi sebelum lebaran pasti kita sibuk kali, mengaji mau khatamkan Al-Qur'anlah, mau beli baju baru, mau bersih-bersih, dan sebagainya. Tapii lebaran di tahun ini sungguh sangat berbeda, yaa memang sangat berbeda, walaupun pada kenyataannya tiap tahun lebaran tahun lalu lebih bermakna. 
     Ditahun ini, keluarga saya gak bisa pulkam, baik itu keluarga dari ayah, ataupun keluarga dari almarhumah mama. Tapii yang paling buat saya sedih itu saudara sendiri aja gak bisa pulkam karena virus corona ini, ya karena pendemi.. Rasanya sediiiih bangat, gak bisa jumpa mereka, padahal kalo gak setahun sekali gak jumpa mereka. 
       Lebaran itu dimana saya bisa kumpul sama keluarga saya sendiri, baik itu keluarga dari ayah, ataupun almarhumah  mama. Bercanda tawa dengan kakak-kakak saya, abang-abang saya, adik-adik saya, sepupu-sepupu dari saudara ayah ataupun saudara dari almarhumah mama. Tapii kali ini sungguh sangat berbeda 😭😭😭. Mereka gak bisa pulang kampung karena corona ini. Sungguh saya sangat merindukan mereka semua..  😭😭😭 
      Keluarga saya banyakan di luar kampung, di kampung saya ini keluarga saya hanya 20%. Jangankan saudara ayah, almarhumah mama, abang saya ada 4, 3 di luar kampung, hanya 1 orang aja di kampung ini, kakak saya ada 3, 1 di luar kampung juga. Begitu juga saudara-saudara  ayah, sama saudara-saudara almarhumah mama. Semoga lebaran tahun depan menyenangkan dan bisa bertemu mereka lg, berkumpul bersama, Aamiin.. Dan semoga virus corona ini cepat musnah dari muka bumi ini, Aamiin.


Minggu, 10 Mei 2020 0 komentar

KONSELING PRANIKAH


MAKALAH PERENCANAAN DAN EVALUASI
PROGRAM KONSELING

KONSELING PRANIKAH

UNTUK MEMENUHI SALAH SATU TUGAS
DOSEN PENGAMPU : Dika Syahputra, M.Pd




           
Disusun 
o
l
e
h


                                              KELOMPOK 3 : 
                                              1. Anika Syahrani         : 0102173090 
                                              2. Nur Aisyah                : 0102173209  
                                              3. Rizki Ananda            : 0102172073



BIMBINGAN PENYULUHAN ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUMATERA UTARA
MEDAN
2019/2020


KATA PENGANTAR


Bismillahirrohmanirrohiim. Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, inayah, taufik, dan ilhamnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca. Makalah ini disusun dalam rangka untuk menyelesaikan tugas dari dosen kami bapak Dika Syahputra M.Pd selaku pengampu materi Perencanaan dan evaluasi program konseling . Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun  isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.

Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang kami miliki sangat kurang. Oleh karena itu kami harapkan kepada pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini. Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini sehingga dapat terselesaikan, apabila ada kesalahan dalam penulisan kami mohon maaf. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai kita semua.







Medan, 08 November 2019



                                   penyusun



DAFTAR ISI



KATA PENGANTAR............................................................................................. i

DAFTAR ISI......................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN :

A.    LATAR BELAKANG........................................................................................... 1

B.     RUMUSAN MASALAH..................................................................................... 2

C.     TUJUAN.............................................................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN :

A.    Pengertian Konseling Pranikah............................................................................ 3

B.     Faktor Penting Proses Konseling Pranikah........................................................4-5

C.     Tujuan Konseling Pranikah................................................................................... 5

D.    Asfek Yang Perlu Diasesmen Dalam KonselingPranikah...................................5-6

E.     Prosedur Konseling Pranikah................................................................................. 7

BAB III PENUTUP :

A.    KESIMPULAN :.................................................................................................... 8

B.     SARAN :................................................................................................................ 8

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................. 9




BAB I

                                                            PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Yang membuat pernikahan bahagia bukan tingkat kecocokan kita dengan pasangan, tetapi seberapa besar kemampuan dan kesediaan kita untuk mengatasi ketidakcocokan. Cinta mungkin terlihat ideal, tetapi sesungguhnya pernikahanlah yang benar-benar aktual. Ketidakjelasan antara yang ideal (apa seharusnya) dan yang aktual (apa adanya) memang tak pernah berujung. Statistik memperlihatkan perlunya menemukan kiat menempuh pernikahan yang sukses. Mengajukan pertanyaan yang tepat kepada pasangan (sebelum menikah) bisa menjadi alternatif solusi melanggengkan perkawinan yang sehat, serasi dan bahagia.

Banyak pasangan enggan mengemukakan pertanyaan-pertanyaan penting sebelum mulai menikah karena ia takut menemukan ketidakcocokan yang bisa jadi menggagalkan rencana pernikahannya, keterbatasan pengetahuan dan rasa canggung yang ada. Tetapi, mengetahui hal-hal tersebut sebelum menikah jelas lebih baik daripada harus mengalami stres setelah menikah. Tiap pasangan biasanya mempunyai banyak alasan untuk menikah, tapi konflik satu hal saja dapat mengarahkan mereka untuk bercerai.

Banyak pasangan yang tidak siap menikah dan mereka tidak diberi kesempatan belajar mengenai hal-hal yang bisa melanggengkan hubungan rumah tangga mereka, bahkan mereka juga tidak mengetahui kriteria pasangan yang tepat untuk mereka. Pernikahan bukan sekedar perencanaan atau seperti gambaran pengantin ideal di televisi dan di film-film. Saat seseorang mencari pasangan, ia harus menyadari bahwa tidak ada orang yang sempurna setiap orang pasti mempunyai kesalahan dan kelemahan. Indahnya pernikahan justru kala menemukan suami atau istri yang dapat menjadi teman dalam pencarian spiritual, mitra membangun hidup, dan pelipur meskipun dia mempunyai kelemahan.

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian konseling pranikah ?

2. Apa saja faktor penting proses konseling  pranikah ?

3. Apa tujuan konseling pranikah ?

4. Bagaimana asfek yang perlu diasesmen dalam  konseling pranikah ?

5. Bagaimana prosedur konseling pranikah ?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian konseling pranikah

2. Untuk mengetahui faktor penting proses konseling  pranikah

3. Untuk mengetahui tujuan konseling pranikah

4. Untuk mengetahui asfek yang perlu diasesmen dalam  konseling pranikah

5. Untuk mengetahui prosedur konseling pranikah.



BAB II

PEMBAHASAN

A.  Pengertian Konseling Pranikah

Pranikah berasal dari 2 kata yaitu “pra” dan “nikah”, “pra” berarti awalan yang bermakna sebelum.[1] Arti kata nikah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dipersamakan artinya dengan kawin.[2] Masa sebelum adanya perjanjian antara laki-laki dan prempuan  untuk bersuami istri dengan resmi menurut Undang-undang  perkawinan agama maupun pemerintah. Menurut Undang-undang perkawinan No.1 Tahun 1974 yang dimaksud dengan perkawinan yakni ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri  dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal.

Konseling pranikah (premarital counseling) merupakan upaya untuk membantu calon suami dan calon istri oleh seorang konselor profesional, sehingga mereka dapat berkembang dan mampu memecahkan masalah yang dihadapinya melalui cara-cara yang menghargai,  toleransi dan dengan komunikasi yang penuh pengertian, sehingga tercapai motivasi keluarga,  perkembangan, kemandirian, dan kesejahteraan seluruh anggota keluarga. Konseling pranikah ini dianggap penting karena banyak orang yang merasa salah dalam menetapkan pilihannya, atau mengalami banyak kesulitan dalam penyesuaian diri dalam kehidupan berkeluarga.[3]

Banyak orang yang terburu-buru membuat keputusan tanpa mempertimbangkan banyak aspek sehubungan dengan kehidupan berumah tangga. Konseling keluarga ini diselenggarakan dengan maksud membantu calon pasangan membuat perencanaan yang matang dengan cara melakukan asesmen terhadap dirinya yang dikaitkan dengan perkawinan dan kehidupan berumah tangga. Konseling pranikah merupakan prosedur pelatihan berbasis pengetahuan dan keterampilan yang menyediakan informasi mengenai pernikahan yang dapat bermanfaat untuk mempertahankan dan meningkatkan hubungan pasangan yang akan menikah setelah mereka menikah.

Konseling pranikah juga dikenal dengan nama program persiapan pernikahan, pendidikan pranikah, konseling edukatif pranikah, dan terapi pranikah. Konseling pranikah diberikan oleh psikolog atau konselor pernikahan. Konseling pranikah adalah suatu pola pemberian bantuan yang ditujukan untuk membantu mahasiswa memahami dan mensikapi konsep pernikahan dan hidup berkeluarga berdasarkan tugas-tugas perkembangan dan nilai-nilai keagamaan sebagai rujukan dalam mempersiapkan pernikahan yang mereka harapkan.

Inti pelayanan konseling pranikah adalah wawancara konseling, melalui wawancara konseling diharapkan mahasiswa dapat memperoleh pengetahuan, pemahaman, keterampilan, nilai-nilai dan keyakinan yang kokoh, serta membantu menangani masalah-masalah yang mengganggu mereka menuju pernikahan yang diharapkan. Konseling pranikah yang dimaksud, dirancang dalam sebuah sistem dengan komponen-komponen dari aspek-aspek konseling yang diidentifikasi secara jelas dan diorganisasikan ke dalam suatu susunan yang dapat meningkatkan keefektifan dan keefesienan suatu pelayanan.

Konseling pra-nikah memiliki peranan penting di dalam menciptakan keluarga bahagia. Karena itu dalam konseling pra-nikah haruslah mencapai tujuan konseling pra-nikah yang hendak dicapai. Konseling pra nikah sifatnya proses pemberi bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli dalam bidang mengkonselingi yaitu konselor kepada pasangan yang membutuhkan bantuan dalam pemecahan masalah yang sedang dihadapi pada dirinya, pasangannya, dan masalah-masalah yang sedang diahadapi oleh keduanya. Konseling pranikah biasanya dilaksanakan pada kedua belah pihak yang sedang mengalami ketidak harmonisan dalam hubungannya. Dalam artian klien disini belum mampu memecahkan masalahnya dengan sendiri sehingga membutuhkan bantuan kepada konselor dalam penyelesaian masalah yang sedang diahadapinya.

B. Faktor Penting Proses Konseling Pranikah

Dalam proses konseling pranikah, konselor perlu menanamkan beberapa faktor penting yang menjadi prasyarat memasuki perkawinan dan berumah tangga. Faktor-faktor tesebut adalah : Faktor fiologis dalam perkawinan : Kesehatan pada umumnya, kemampuan mengadakan hubungan seksual. Faktor ini menjadi penting untuk dipahami pasangan suami isteri, karena salah satu tujuan perkawinan adalah menjalankan fungsi regenerasi (meneruskan keturunan keluarga). Pemahaman kondisi masing-masing akan memudahkan proses adaptasi dalam hal pemenuhan kebutuhan ini.

Faktor psikologis dalam perkawinan : Kematangan emosi dan pikiran, sikap saling dapat menerima dan memberikan cara kasih antara suami isteri dan saling pengertian antara suami isteri. Faktor agama dalam perkawinan, Faktor agama merupakan hal yang penting dalam membangun keluarga. Perkawinan beda agama akan cenderung lebih tinggi menimbulkan masalah bila dibandingkan dengan perkawinan seagama. Faktor komunikasi dalam perkawinan, Komunikasi menjadi hal sentral yang harus diperhatikan oleh pasangan suami isteri. Membangun komunikasi yang baik menjadi pintu untuk menghindari kesalahpahaman yang dapat memicu timbulnya konflik yang lebih besar dalam keluarga.

C.  Tujuan Konseling Pranikah

Brammer dan Shostrom (1982) mengemukakan tujuan konseling pranikah adalah membantu partner pranikah (klien) untuk mencapai pemahaman yang lebih baik tentang dirinya, masing-masing pasangan dan tuntutan-tuntutan perkawinan[4]. Tujuan tersebut tampaknya yang bersifat jangka pendek, sedangkan yang jangka panjang sebagaimana yang dikemukakan H.A. Otto (1965), yaitu membantu pasangan pranikah untuk membangun dasar-dasar yang dibutuhkan untuk kehidupan yang bahagia dan produktif.

Tujuan konseling pranikah ialah untuk meningkatkan hubungan sebelum pernikahan sehingga dapat berkembang menjadi hubungan pernikahan yang stabil dan memuaskan. Konseling pranikah akan membekali pasangan dengan kesadaran akan masalah potensial yang dapat terjadi setelah menikah, dan informasi serta sumber daya untuk secara efektif mencegah atau mengatasi masalah-masalah tersebut hingga pada akhirnya dapat menurunkan tingkat ketidakbahagiaan dalam pernikahan dan perceraian. Konseling pranikah juga bermanfaat untuk menjembatani harapan-harapan yang dimiliki oleh pasangan terhadap pasangannya dan pernikahan yang mereka inginkan yang belum sempat atau belum bisa dibicarakan sebelumnya dengan dibantu oleh tenaga profesional psikolog/konselor pernikahan.

D. Asfek Yang Perlu Diasesmen Dalam Konseling Pranikah

Aspek yang perlu dipahami dan dilakukan asesmen pada saat konselor jika melakukan konseling pranikah :

1. Riwayat Perkenalan

Konselor perlu mengetahui riwayat perkenalan pasangan pranikah. Dimana mulai berkenalan, seberapa perkenalan berlangsung, bagaimana mereka saling mengetahui satu sama lain. Misalnya pembicaraan tentang nilai, tujuan dan harapannya terhadap hubungan pernikahan, dan alasan mereka berkeinginan melanjutkan perkenalannya kearah pernikahan.

2. Perbandingan Latar Belakang Pasangan

Keberhasilan membangun keluarga seringkali dihubungkan dengan latar belakang pasangan. Kesetaraan latar belakang lebih baik penyesuaian pernikahannya dibanding dengan yang berasal dari latar belakang yang berbeda. Konselor perlu mengungkapkan latar belakang pendidikan, budaya keluarga setiap partner dan status sosial ekonominya sepenuhnya harus dieksplorasi, dan perbedaan agama serta adat istiadat keluarganya.

3. Sikap Keluarga Keduanya

Sikap keluarga terhadap rencana pernikahannya, termasuk bagaimana sikap mertua terhadap keluarga dan sanak keluarga terhadap keluarga nantinya, apakah mereka menyetujui terhadap rencana pernikahannya, atau memberikan dorongan, dan bahkan memaksakan agar menikah dengan orang yang disenangi. Sikap keluarga keduanya ini sangat penting diketahui terutama untuk mempersiapkan pasangan dalam menyikapi masing-masing keluarga calon pasangannya.[5]

4. Perencanaan Terhadap Pernikahan

Perencanaan terhadap pernikahan meliputi rumah yang akan ditempati, sistem keuangan keluarga yang hendak disusun dan apa yang dipersiapkan menjelang pernikahan. Kemampuan pasangan untuk memperkirakan tanggung jawab keluarga ditunjukkan oleh persiapan dan perencanaan mereka terhadap pernikahan yang hendak dilaksanakan, oleh karena itu, perlu dipahami apakah mereka memiliki perencanaan yang cukup realistis atau tidak.

5. Faktor Psikologis dan Kepribadian

Faktor psikologis dan kepribadian yang perlu diasesmen adalah sikap mereka terhadap peran seks dan bagaimana peran yang hendak dijalankan keluarganya nanti, bagaimana perasaan mereka terhadap dirinya (self image, body image), dan usaha apa yang akan dilakukan untuk keperluan keluarganya nanti.

6. Sifat Prokreatif

Sikap prokreatif menyangkut sikap mereka terhadap hubungan seksual dan sikapnya jika memiliki anak. Bagaimana rencana pengasuhan terhadap anaknya kelak.

7. Kesehatan dan Kondisi Fisik

Hal lain yang sangat penting adalah perlunya diketahui tentang kesesuaian usia untuk mengukur kematangan emosional sevara usia kronologis, kesehatan secara fisik dan mentalnya, dan faktor-faktor genetik.
E. Prosedur Konseling Pranikah

Konseling pranikah diselenggarakan sebagaimana konseling perkawinan. Yang menjadi penekanan pada konseling pranikah ini lebih bersifat antisipatif, yaitu mempersiapkan diri untuk menetapkan pilihan yang tepat sehubungan dengan rencana pernikahannya. Adapun prosedur tersebut adalah :

1. Persiapan, tahap yang dilakukan klien menghubungi konselor.

 2. Tahap keterlibatan (the joining), adalah tahap keterlibatan bersama klien. Pada tahap ini konselor mulai menerima klien secara isyarat (nonverbal) maupun secara verbal, merefleksi perasaan, melakukan klarifikasi dan sebagainya.

3. Tahap menyatakan masalah, yaitu menetapkan masalah yang dihadapi oleh pasangan. Oleh karena itu, harus jelas apa masalahnya, siapa yang bermasalah, apa indikasinya, apa yang telah terjadi, dan sebagainya.

4. Tahap interaksi, yaitu konselor menetapkan pola interaksi untuk penyelesaian masalah. Pada tahap ini anggota keluarga mendapatkan informasi yang diperlukan untuk memahami masalahnya dan konselor dapat melatih anggota keluarga itu berinteraksi dengan cara-cara yang dapat diikuti (misalnya pelan, sederhanan, detail, dan jelas) dalam kehidupan mereka.

5.Tahap Konferensi, yaitu tahap untuk meramalkan keakuratan hipotesis dan memformulasikan langkah-langkah pemecahan. Pada tahap ini konselor mendesain langsung atau memberi pekerjaan rumah untuk melakukan atau menerapkan pengubahan ketidak berfungsinya perkawinan.

6. Tahap penentu tujuan, tahap yang dicapai klien telah mencapai perilaku yang normal, telah memperbaiki cara berkomunikasi, telah menaikkan self-esteem dan membuat keluarga lebih kohesif.

7. Tahap akhir dan penutup, merupakan kegiatan mengakhiri hubungan konseling setelah tujuannya tercapai.





BAB III

PENUTUP



A. KESIMPULAN

Pranikah berasal dari 2 kata yaitu “pra” dan “nikah”, “pra” berarti awalan yang bermakna sebelum. Arti kata nikah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dipersamakan artinya dengan kawin. Masa sebelum adanya perjanjian antara laki-laki dan prempuan  untuk bersuami istri dengan resmi menurut Undang-undang perkawinan agama maupun pemerintah

Konseling pranikah (premarital counseling) merupakan upaya untuk membantu calon suami dan calon istri oleh seorang konselor profesional, sehingga mereka dapat berkembang dan mampu memecahkan masalah yang dihadapinya melalui cara-cara yang menghargai,  toleransi dan dengan komunikasi yang penuh pengertian, sehingga tercapai motivasi keluarga,  perkembangan, kemandirian, dan kesejahteraan seluruh anggota keluarga..

Tujuan konseling pranikah ialah untuk meningkatkan hubungan sebelum pernikahan sehingga dapat berkembang menjadi hubungan pernikahan yang stabil dan memuaskan. Konseling pranikah akan membekali pasangan dengan kesadaran akan masalah potensial yang dapat terjadi setelah menikah, dan informasi serta sumber daya untuk secara efektif mencegah atau mengatasi masalah-masalah tersebut hingga pada akhirnya dapat menurunkan tingkat ketidakbahagiaan dalam pernikahan dan perceraian.

Konseling pranikah juga bermanfaat untuk menjembatani harapan-harapan yang dimiliki oleh pasangan terhadap pasangannya dan pernikahan yang mereka inginkan yang belum sempat atau belum bisa dibicarakan sebelumnya dengan dibantu oleh tenaga profesional psikolog/konselor pernikahan.



B. SARAN

Dalam makalah ini kami membahas tentang konseling Pranikah. Berdasarkan kesimpulan di atas. Penulis menyadari, bahwa dalam makalah ini masih banyak terdapat kekurangan. Oleh karena itu, kritikan dan saran sangat kami harapkan, guna perbaikan makalah kami di masa yang akan datang.


DAFTAR PUSTAKA

Bimo Walgito. 2004. Bimbingan dan  Konseling Perkawinan. Yogyakarta : Andi Offset

Digilib.uin-suka.ac.id di akses pada 06 November 2019, jam 17 : 30.

Http:// Suci-anak pertanian  Urgensi Konseling Pra- Nikah.htm di akses pada  05 November 2019, jam 17:00.

Latipun. 2010. Psikologi Konseling. Malang : UPT Penerbitan Universitas Muhammadiyah Malang.


[1]Tim Besar Bahasa Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia  (Jakarta : Balai Pustaka, 2002), hal. 891
[2]W. J. S. Poorwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia  (Jakarta : Balai Pustaka, 1993), hal.676-677

[3]Bimo Walgito,Bimbingan dan  Konseling Perkawinan  ( Yogyakarta: Andi Offset,2004), hal.105
[4] Latipun, Psikologi Konseling,  (Malang: UPT Penerbitan Universitas Muhammadiyah Malang,2010), hal.154

[5]Ibid 78-79

Jumat, 08 Mei 2020 0 komentar

PSIKOSOMATIK


MAKALAH KESEHATAN MENTAL I

PSIKOSOMATIK

UNTUK MEMENUHI SALAH SATU TUGAS
DOSEN PENGAMPU : Dr. Zainun MA




Disusun
o
l
e
h

KELOMPOK 8 :
1. Auli Amri                                   : 0102173194           
2. Gustia Arfah Parapat              : 0102173125                 
3. Nur Aisyah                                : 0102173209         
4. Wulan Sari                                : 0102171019
                

BIMBINGAN PENYULUHAN ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUMATERA UTARA
MEDAN
2019/2020


KATA PENGANTAR 
Bismillahirrohmanirrohiim. Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, inayah, taufik, dan ilhamnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca. Makalah ini disusun dalam rangka untuk menyelesaikan tugas dari dosen kami bapak Dr. Zainun, MA selaku pengampu materi Kesehatan Mental I. Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun  isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.

Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang kami miliki sangat kurang. Oleh karena itu kami harapkan kepada pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini. Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini sehingga dapat terselesaikan, apabila ada kesalahan dalam penulisan kami mohon maaf. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai kita semua.


 

Medan, 02 Desember 2019

                                   penyusun

DAFTAR ISI



KATA PENGANTAR.................................................................................... i

DAFTAR ISI.................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN ..............................................................................1

A.    LATAR BELAKANG.....................................................................................1

B.     RUMUSAN MASALAH...............................................................................1

C.     TUJUAN.......................................................................................................1-2

BAB II PEMBAHASAN :

A.    Pengertian Psikosomatik...........................................................................3-4

B.     Gejala-gejala Psikosomatik......................................................................4-5

C.    Proses Terjadinya Psikosomatik..............................................................5-6

D.    Faktor-faktor Penyebab Psikosomatik....................................................6-8

E.     Cara Mencegah Psikosomatik..................................................................8-9

F.     Cara Mengobati Psikosomatik................................................................9-11

G.    Terapi Psikosomatik dalam Islam..............................................................11

BAB III PENUTUP

A.    KESIMPULAN :...........................................................................................12

B.     SARAN :........................................................................................................13

DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................14


BAB I

                                                            PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
            Kegagalan dalam melakukan penyesuaian terhadap berbagai persoalan bukan hanya menimbulkan gangguan psikis atau mental saja. Gejala gagal dalam melakukan penyesuaian bisa muncul dalam bentuk gangguan-gangguan yang bersifat kebutuhan/fisik karena pada dasarnya antara badan dan jiwa merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan, sehingga gangguan terhadap salah satu di antaranya menimbulkan gangguan pada lainnya. Inilah yang kemudian sering disebut dengan gangguan psikosomatik.

Penyakit-penyakit psikosomatik merupakan gangguan kesehatan yang bukan saja umum dijumpai dalam populasi, tapi sering menimbulkan kesalahpahaman di bidang medis. Medikasi sering memberi kesembuhan secara cepat, namun bukan berarti persoalannya menjadi beres karena seringkali penyakit tersebut kambuh kembali berulang-ulang. Ini berkaitan karena sumbernya bukan dari tubuh yang sakit, melainkan pada persoalan mental yang belum terselesaikan.

Penemuan-penemuan terbaru berkaitan dengan kerja otak semakin menambah keyakinan antara hubungan yang erat antara fisik dan mental. Oleh karena itu penyembuhan penyakit-penyakit psikosomotik perlu melibatkan interaksi fisik mental. Kerja sama bidang kedokteran dan psikologi perlu mulai dikembangkan untuk mendapatkan strategi penyembuhan yang ideal.

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian Psikosomatik ?

2. Apa saja gejala-gejala Psikosomatik ?

3. Bagaimana proses terjadinya Psikosomatik ?

4. Apa saja faktor-faktor penyebab Psikosomatik ?

5. Bagaimana cara mencegah Psikosomatik ?

6. Bagaiman cara terapi Psikosomatik dalam Islam ?



C. Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian Psikosomatik

2. Untuk mengetahui gejala-gejala Psikosomatik

3. Untuk mengetahui proses terjadinya Psikosomatik

4. Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab Psikosomatik

5. Agar mengetahui cara mencegah Psikosomatik

6. Agar mengetahui cara terapi Psikosomatik dalam Islam


BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Psikosomatik

Menurut literatur yang ada, Psikosomatik berasal dari kata Psiko atau Psyche yang artinya Jiwa, sedang Soma artinya badan, jadi ilmu ini mempelajari kaitan antara jiwa dan badan. Ilmu ini menegaskan bahwa faktor psikologis memegang peranan sangat penting dalam perkembangan semua penyakit. Gangguan psikosomatik adalah salah satu gangguan jiwa yang paling umum ditemukan dalam praktek umum. Istilah ini terutama digunakan untuk penyakit fisik yang disebabkan atau diperburuk oleh faktor kejiwaan/ psikologis. Istilah ini diperkenalkan oleh seorang dokter Jerman Heinroth ke dalam kedokteran Barat. Pada tahun 1818 ia menerbitkan desertasi yang menekankan pentingnya faktor psikososial dalam perkembangan penyakit fisik.

Sebenarnya, kurang lebih 400 tahun SM ahli filsafat Hipocrates sudah mengutarakan pentingnya peran faktor psikis pada penyakit. Pada abad pertengahan Paracelcus seorang ahli kimia menyatakan bahwa kekuatan batin memiliki pengaruh terhadap kekuatan seseorang.[1] Pada perkembangannya, psikosomatik disebut juga dengan psikosomatis, somatisasi, neurofisiologi, dan sebagainya, yang pada intinya mempunyai satu makna.

Psikosomatik adalah gangguaan fisik yang disebabkan oleh faktor-faktor kejiwaan dan sosial. Seseorang jika emosinya menumpuk dan memuncak maka hal itu dapat menyebabkan terjadinya goncangan dan kekacauan dalam dirinya. Jika faktor-faktor yang menyebabkan memuncaknya emosi itu secara berkepanjangan tidak dapat dijauhkan, maka ia dipaksa untuk selalu berjuang menekan perasaannya. Perasaaan tertekan, cemas, kesepian dan kebosanan yang berkepanjangan dapat mempengaruhi kesehatan fisiknya. Jadi Psikosomatik dapat disebut sebagai penyakit gabungan, fisik dan mental, dimana yang sakit sebenarnya jiwanya, tetapi menjelma dalam bentuk sakit fisik.

Beberapa penyakit fisik dianggap sangat rentan diperburuk oleh faktor mental seperti stres dan kecemasan, di antaranya: gangguan kulit, muscoskeletal (otot, sendi dan saraf),  pernafasan, jantung, kemih, kelenjar, mata dan saraf. Pusing, keringat dingin, tangan basah, sakit perut dan melilit juga terjadi dikarenakan akibat dari pikiran, yang merupakan gejala dari psikosomatik. Gejala penyakit ini banyak terjadi pada wanita dan pria mulai dari usia remaja sampai dewasa, bahkan lanjut usia.

Gangguan psikosomatis atau somatisasi adalah gangguan psikis yang menyebabkan gangguan fisik. Pendek kata, psikosomatik adalah penyakit fisik yang disebabkan oleh pikiran negatif dan/atau masalah emosi. Masalah emosi itu antara lain rasa berdosa, merasa punya penyakit, stress, depresi, kecewa, kecemasan atau masalah emosi negatif lainnya. Gangguan ini tidak hanya terjadi pada orang dewasa, anak-anak pun bisa mengalaminya. Perlu diketahui bahwa pikiran dapat menyebabkan gejala fisik. Sebagai contoh, ketika seseorang takut atau cemas dapat memacu detak jantung yang cepat, jantung berdebar, merasa sakit, gemetar (tremor), berkeringat, mulut kering, sakit dada, sakit kepala, dan bernafas cepat. Gejala-gejala fisik tersebut melalui saraf otak mengirim impuls tersebut ke berbagai bagian tubuh, dan pelepasan adrenalin ke dalam aliran darah.

B.  Gejala-gejala Psikosomatik

Sindroma psikosomatik mempunyai gejala fisik berupa : (1). Penyakit salah satu sistem tubuh yang paling rentan bagi pasien, misalnya : Asma (sistem respiratorius), neurodermatitis (sistem integumentum), ulkus peptikum (sistem digestivus), artritis rematik (sistem muskuloskeletal), PJK dan aritmia (sistem kardiovaskuler), dan migrain (sistem neurologik). Pada sindroma psikosomatik ini dijumpai pula (2) patologi organ (+) dan (3) mekanisme patofisiologik (+). Gejala psikis berupa (1). Munculnya gejala sistem tersebut berkaitan dengan waktu dan stimulus lingkungan yang secara psikologis bermakna bagi pasien dan (2). Faktor psikologis tersebut bukan merupakan gangguan mental yang spesifik.

Psikosomatis ditandai dengan adanya keluhan dengan gejala fisik yang beragam. Namun umumnya penderita mengalami atau mengeluhkan beberapa gejala berikut: : Mual, muntah, sendawa, sakit perut, rasa pedih, kulit gatal, pusing, nyeri saat berhubungan seksual.[2] Para penderita psikosomatik, umumnya mengeluhkan gangguan yang berkaitan dengan sistem organ, seperti :

1. Kardio-vaskuler      : Keluhan jantung berdebar-debar, cepat lelah

2. Gastro-intestinal      : Keluhan ulu hati nyeri, mencret kronis

3. Respiratorlus           : Keluhan sesak napas, asma

4. Dermatologi            : Keluhan gatal, eksim

5. Muskulo-skeletal     : Keluhan encok, pegal, kejang

6. Endokrinologl         : Keluhan hipertiroidi, hipotiroidi, dismenorea

7. Urogenital               : Kehuhan masih ngompoh, gangguan gairah seks

8.  Serebro vaskuler     : Keluhan pusing, sering lupa, sukar konsentrasi, kejang epilepsi.

Selain itu, masalah kejiwaan yang menyertainya yaitu gejala anxietas dan gejala depresi.

C. Proses Terjadinya Psikosomatik

                  Untuk memahami terjadinya penyakit psikosomatis kita perlu mencermati hukum pikiran dan pengaruh emosi terhadap tubuh. Ada banyak hukum yang mengatur cara kerja pikiran, salah satunya adalah :

*Setiap pikiran atau ide mengakibatkan reaksi fisik.

*Simtom yang muncul dari emosi cederung akan mengakibatkan perubahan pada tubuh fisik bila simtom ini bertahan cukup lama.

Hukum pertama mengatakan setiap pikiran atau ide mengakibatkan reaksi fisik. Bila seseorang berpikir, secara konsisten, dan meyakinkan dirinya bahwa ia sakit jantung, maka cepat atau lambat ia akan mulai merasa tidak nyaman di daerah dada, yang ia yakini sebagai gejala sakit jantung. Bila ide ini terus menerus dipikirkan dan akhirnya ia menjadi sangat yakin, menjadi percaya, karena gejalanya memang “benar” adalah gejala sakit jantung maka, sesuai dengan bunyi hukum yang kedua, ia akan benar-benar sakit jantung[3]. Biasanya orang tidak akan secara sadar menginginkan mengalami sakit tertentu. Umunya yang mereka rasakan adalah suatu perasaan tidak nyaman, secara emosi. Sayangnya mereka tidak mengerti bahwa perasaan tidak nyaman ini sebenarnya adalah salah satu bentuk komunikasi dari pikiran bawah sadar ke pikiran sadar.

Ada lima cara pikiran bawah sadar berkomunikasi dengan pikiran sadar. Bisa melalui perasaan, kondisi fisik, intuisi, mimpi, dan dialog internal. Umumnya pikiran bawah sadar menyampaikan pesan melalui perasaan atau emosi tertentu. Bila emosi ini tidak ditanggapi atau diperhatikan maka ia akan menaikkan level intensitas pesannya menjadi suatu bentuk gangguan fisik dan terjadilah yang disebut dengan penyakit psikosomatis.

Dalam mata kuliah psikologi faal dijelaskan, bahwa semua proses dari hormon itu melibatkan sistem limbik setelah sebelumnya melewati hipofase (hipotalamus). Sistem limbik ini adalah pusat dari segala emosi yang terjadi pada manusia. Sehingga secara otomatis, pertumbuhan dan perkembangan hormon dipengaruhi oleh perasaan atau emosi.[4] Otak manusia selain merupakan pusat pikir (otak besar) yang merupakan pusat kesadaran, juga merupakan pusat emosi (otak kecil maupun batang otak). Jadi sebenarnya antara pikiran dan emosi terdapat jalinan yang sangat erat karena semuanya terjadi di otak. Berdasarkan anatomi seperti inilah, maka muncul istilah kecerdasan emosi, yaitu bagaimana orang bisa mengelola emosi sehingga berguna untuk meningkatkan kualitas hidup.

Emosi pada gilirannya akan mempengaruhi kerja sistem saraf, hormonal maupun fungsi otak lainnya. Orang yang cerdas secara emosi akan mampu mengintegrasikan kerja seluruh bagian otaknya sehingga mampu berfungsi secara optimal. Misalnya, ketika menghadapi suatu persoalan, otak kecil akan bereaksi sehingga memacu pengeluaran hormon yang ada di otak. Hormon ini pada gilirannya akan mempengaruhi kerja kelenjar hormon lainnya yang ada di tubuh, misalnya seperti kelenjar adrenal yang terdapat pada ginjal. Bagian dalam kelenjar adrenal memproduksi hormon adrenalin yang menyebabkan reaksi emosi takut dan hormon noradrenalin yang menyebabkan emosi marah. Karena rangkaian seperti inilah maka kita bisa merasakan emosi marah atau takut dan berbagai macam emosi lainnya dalam jangka waktu yang agak lama.

Apalagi karena hormon-hormon tersebut diserap oleh tubuh dengan perlahan-lahan. Hormon-hormon ini pada gilirannya akan mempengaruhi reaksi saraf otonom dalam jangka waktu yang agak lama juga. Inilah sebabnya mengapa orang yang mengalami stres atau emosi yang tinggi dalam jangka waktu yang lama akhirnya mudah menjadi sakit ini disebabkan fungsi organ tubuh yang tidak seimbang lagi (mengalami ketegangan dalam jangka waktu yang lama) sehingga mengganggu metabolisme maupun daya tahan tubuh.

D.   Faktor-faktor Penyebab Psikosomatik

David B.Cheek, M.D. dan Leslie M. Lecron, B.A dalam bukunya Clinical Hypnotherapy mengatakan bahwa ada 7 faktor penyebab berbagai gangguan psikosomatis. Memahami 7 kunci penting ini akan membantu terapis dan klien membuka pintu gerbang kesadaran baru tentang pemahaman masalahnya. Untuk memudahkan mengingat maka kita gunakan mnemonik COMPISS (Conflict, Organ Language, Motivation, Past Experience, Identification, Self-punishment, Suggestion/Imprint)

1.Conflict

Konflik internal muncul karena ada minimal dua bagian dari diri seseorang yang saling bertentangan. Tujuan dari kedua bagian ini sebenarnya sama baiknya namun karena bertolak belakang akibatnya timbul masalah. Sebagai contoh kasus yang lain adalah seorang salesman yang sangat sukses namun memiliki kecemasan sangat tinggi dan selalu berusaha menghindar untuk berjabat tangan. Padahal dalam menjalankan aktivitasnya ia seringkali harus berjabat tangan memperkenalkan diri dengan pelanggannya. Setelah dilakukan hipnoanalisis ternyata saat ia masih remaja ia sering melakukan masturbasi dan ia ketakutan membayangkan orang-orang yang dikenalnya akan bisa mengenali keburukannya

2. Organ Language / Unresolved problem

Ini adalah salah satu cara pikiran bawah sadar berbicara pada kita tentang masalah yang belum terselesaikan. Caranya adalah dengan memberi rasa sakit pada bagian tertentu tubuh kita. Jadi masalah itu dimunculkan dalam bentuk symptom. Dengan adanya symptom diharapkan pikiran bawah sadar mendapatkan perhatian dari pikiran sadar. Makna symptom ini adalah, ”Saya tidak suka apa yang sedang anda lakukan”. Inilah penyakit yang bersifat psikosomatis. Jadi klien perlu dibantu menemukan akar masalahnya jauh di pikiran bawah sadarnya. Seringkali apa yang tampaknya menjadi masalah, menurut pikiran sadar, ternyata berbeda dengan yang dinyatakan oleh pikiran bawah sadar.

3. Motivation

Symptom yang dialami seseorang sering kali mempunyai tujuan tersembunyi demi keuntungan orang tersebut. Contohnya adalah seorang anak yang malas sekali belajar sehingga ulangannya mendapatkan nilai jelek semua. Ternyata hal ini adalah salah satu upayanya agar mendapatkan teguran dari orangtua. Ia menyamakan teguran dengan perhatian. Contoh lain lagi adalah kasus pada seorang wanita yang mengalami migrain. Setelah diselidiki lebih dalam ternyata pikiran bawah sadar wanita ini membuat wanita ini mengalami migrain karena dengan demikian suami dan anak-anaknya memperhatikannya. Bila dalam kondisi normal, tanpa migrain, keluarganya biasanya sibuk sendiri dan kurang memperhatikan wanita ini.

4. Past Experience

Pengalaman masa lalu yang menyakitkan, sesuai dengan persepsi pikiran bawah sadar, mempunyai pengaruh yang sangat kuat dan bertahan lama. Contohnya adalah phobia. Ketakutan akan sesuatu, yang terjadi di masa lalu, terbawa hingga masa kini dan sangat mengganggu seseorang.

5. Identification

Pada kasus ini klien mengidentifikasikan dirinya dengan satu figur yang ia kagumi. Contoh kasusnya adalah seorang klien yang sering ditipu oleh rekan kerjanya. Ternyata ia mengidolakan seorang tokoh bisnis yang dulunya ditipu berkali-kali sehingga akhirnya bisa sukses dan makmur. Identifikasi ini adalah sebuah program yang bekerja sangat halus yang jika digunakan dengan baik maka akan menghasilkan sesuatu yang positif. Satu hal yang perlu diingat bila kita menggunakan identifikasi adalah apapun yang melekat pada seorang figur biasanya akan ikut terserap juga walau terkadang ini bertentangan dengan nilai hidup kita.

6. Self-punishment

Perasaan bersalah atas apa yang telah dilakukan di masa lalu sering kali termanifestasi dalam sebuah perilaku untuk menghukum diri sendiri. Terapi dilakukan dengan membantu klien untuk bisa memaafkan dirinya sendiri atas kesalahan tersebut atau yang dirasa sebagai suatu kesalahan yang ia lakukan.

7. Sugesstion/Imprint

Imprint adalah sebuah kepercayaan/belief yang ditanamkan ke pikiran klien, biasanya oleh figur yang oleh klien dipandang memiliki otoritas. Seorang wanita berumur 40 an tahun menderita batuk puluhan tahun. Tak ada pengobatan yang bisa menyembuhkan batuknya. Akhirnya ia pun mencoba hipnoterapi dan setelah dilakukan hipnoanalisis akhirnya terungkap pada saat ia berusia 4 tahun ia sedang terbaring di ranjang rumah sakit. Ia menderita batuk yang sangat parah. Ayah ibunya ada di sisi ranjangnya saat seorang dokter mengatakan bahwa ia tak akan pernah sembuh dari batuknya. Perkataan dokter ini langsung membuatnya ketakutan dan saat itulah perkataan sang dokter menjadi sebuah kebenaran yang diterima pikiran bawah sadarnya.[5]


E.  Cara Mencegah Psikosomatik

Karena psikosomatis adalah penyakit yang disebabkan oleh proses psikis yang dialami sehingga berpengaruh terhadap fisik, maka tak ada jalan lain untuk mencegahnya kecuali dengan memahami secara betul apa yang terjadi dan dinginkan oleh diri. Pada konteks inilah, konsep self-theory yang dikatakan oleh Carl Roger menjadi penting, dengan asumsi, bahwa yang paling mengetahui dirinya adalah dirinya sendiri, bukan orang lain. Jika menggunakan teorinya Freud, maka seseorang harus berusaha sekuat mungkin untuk “mendamaikan” antara id dengan superego-nya sehingga dapat meminimalisasi terjadinya konflik atau neurotik. Namun, hal ini akan sulit sekali karena tak ada kebutuhan dari id yang selamanya mulus jika melewati filter dari super ego. Sehingga konsep humanistik, dalam kondisi ini, dapat mengambil perannya, yaitu sebuah konsep yang berusaha untuk menyadarkan kemanusiaan manusia.

Sederhananya, konsep humanistik ini mengajarkan manusia untuk mengaktualisasikan diri, berprilaku yang baik dan benar, jujur, dan sadar akan potensi diri. Pada proses selanjutnya, konsep tentang spiritualitas dapat juga dijadikan acuan. Selanjutnya berupa anjuran untuk memperbaiki kondisi lingkungan dalam keluarga, sosial ekonomi, dan juga di lingkungan pekerjaannya. Sebab, tidak jarang penyebab masalah psikis adalah orang-orang yang berada di sekitarnya, atau mungkin significan other dalam hidupnya.

Dengan adanya sosialisasi yang baik, seseorang akan mudah untuk berpikir terbuka dan berpikir positif, yang secara otomatis akan menjadikannya lebih sehat, baik fisik maupun psikis. Untuk itulah, seseorang wajib memahami sungguh-sungguh masalah psikosomatis ini. Lebih-lebih para praktisi medis. Mereka harus lebih proaktif dan bertindak profesional sehingga masyarakat/pasien tidak dijatuhkan pada pemaksaan terselubung alias medikalisasi.


F. Cara Mengobati Psikosomatik

Perkembangan dalam terapi ilmu kedokteran dewasa ini sesuai dengan definisi WHO tahun 1994 tentang "konsep sehat" adalah sehat secara fisik, psikologis, sosial, dan spiritual, maka terapi pun seharusnya dilakukan secara holistik. Maksudnya, tidak hanya gejala fisik saja yang ditangani tetapi pemeriksaan pada faktor-faktor psikis yang biasanya sangat mendominasi penderita psikosomatis pun menjadi prioritas.

Selain itu, bagi seorang dokter seharusnya mampu menyakinkan dan menenangkan penderita penyakit psikosomatis ini sehingga mereka tidak terlalu memikirkan kondisi penyakitnya. Berempati dalam mendengarkan segala keluhan penderita yang berkaitan dengan masalah kehidupan yang dihadapinya sebagai salah satu cara terapi (ventilasi) juga menjadi salah satu tugas dokter dalam menangani penyakit ini. Dengan demikian penderita akan lebih merasa tenang.

Seorang dokter juga seharusnya memberikan re-edukasi dan re-assurance. Ini dimaksudkan untuk meyakinkan dan menjamin penderita bahwa segala masalah yang dihadapi dapat diatasi. Biasanya pada tahap ini peran dokter/psikiater atau rohaniwan sangat membantu.8 Ada dua macam pengobatan untuk gangguan psikosomatik, pengobatan fisik dan mental. Pengobatan fisik disesuaikan dengan penyakit yang diderita. Sedangkan perawatan mental dapat dilakukan dengan hipnoterapi, obat, atau dengan bantuan psikolog.

Gejala psikosomatis bisa saja diringankan dengan obat-obatan semisal penahan rasa sakit, seperti Antalgin, Postan maupun parasetamol. Namun itu hanya menahan sementara, dan gejala penyakit akan muncul kembali berulang-ulang, dan kadang dalam bentuk yang berbeda-beda. Obat-obatan hanya menangani gejala. Selama penyebabnya (program pikiran dan emosi negatif) masih ada, gejala penyakit akan terus timbul.[6]

Pada dasarnya penyakit psikosomatis merupakan hal yang sederhana. Mengapa ? Karena begitu masalah yang terpendam di dalam pikiran bawah sadar diketahui, dan masalah tersebut diselesaikan, maka saat itupun pikiran memerintahkan tubuh untuk menghilangkan segala gejala-gejala yang muncul. Disitulah saatnya terjadi kesembuhan atas penyakit psikosomatis tersebut. Pada kondisi seperti ini, yang harus dilakukan adalah menyembuhkan gangguan psikis. Hipnosis atau hipnoterapi menjadi salah satu pilihan terbaik untuk menyembuhkan gangguan ini.

Menurut APA (American Psychological Association), Dictionary of Psychology, edisi 2007, bukti-bukti ilmiah menunjukkan hipnoterapi dapat bermanfaat mengatasi hipertensi, asma, insomnia, manajemen rasa nyeri akut maupun kronis, anorexia, nervosa, makan berlebih, merokok, dan gangguan kepribadian. Hasil guna sebagai "terapi pendukung" dalam beberapa penyakit juga telah terbukti.

Menurut kata Ferdiansyah Setiadi Setiawan, S.I.P., CI, CHt, CH, instruktur hipnoterpi, hipnoterapi, Ketua IBH (The Indonesian Board of Hypnotherapy) Chapter Bandung, "Dengan mengistirahatkan pikiran sadar (conscious mind) melalui hipnosis, seseorang dapat diberikan memori, saran, atau sugesti yang dapat memprogram ulang pikiran bawah sadarnya untuk berbagai tujuan positif,".

Tebetts mengatakan ada 4 langkah yang harus dilakukan untuk mengatasi penyakit psikosomatis dan mengatasi simtomnya dengan teknik uncovering :

1. Memori yang menyebabkan munculnya simtom harus dimunculkan dan dibawa ke pikiran sadar untuk diketahui

2. Perasaan atau emosi yang berhubungan dengan memori ini harus kembali dialami dan dirasakan oleh klien.

3. Menemukan hubungan antara simtom dan memori.

4. Harus terjadi pembelajaran pada secara emosi atau pada level pikiran bawah sadar, sehingga membuat seseorang membuat keputusan di masa depan, yang mana keputusannya tidak dipengaruhi lagi oleh materi yang tertekan (repressed content) di pikiran bawah sadar klien.

Pada saat alasan terciptanya penyakit psikosomatis ini dihilangkan, maka pikiran bawah sadar tidak mempunyai alasan lagi untuk memunculkan penyakit ini di masa mendatang. Bagaimana menangani penyakit psikosomatis ? Penanganan pada orang dewasa dapat dilakukan dengan :

1. Obat (penenang, anti depresan, tidur)

2. Olahraga/relaksasi dan rekreasi

3.  Meningkatkan ibadah

4.  Hipnoterapi
Karena yang menjadi sumber masalah sebenarnya adalah emosi maka terapis harus mampu membantu klien memproses emosi terpendam yang menjadi sumber masalah.
[7]

G. Terapi Psikosomatik dalam Islam

Bagaimana shalat bisa menangani psikosomatik ? Shalat yang dilakukan dengan benar atau khusyu, ternyata mampu untuk mencegah atau mengobati penyakit tersebut. Dalam shalat, semua gerakan dilakukan dengan tuma’ninah, tidak terburu-buru atau ada jeda dalam setiap gerakan shalat. Mulai dari takbiratul ihram, ruku’ dan sujud, semuanya dilakukan dengan tumakninah dan secara fisik semua anggota badan harus rileks, jangan ada otot-otot yang menegang.

Dan yang paling utama, shalat harus dilakukan dengan melibatkan hati dan rasa, karena shalat merupakan olah rasa bukan sekedar olahraga. Ilham dari Allah tidak turun dalam bentuk bunyi atau huruf ‘la shoutun wa la harfun’ namun merupakan getaran ilahiyah yang diturunkan ke dalam dada orang-orang yang beriman. Jadi apabila shalat dilakukan dengan ikhlas, hati yang semeleh, pasrah dan tunduk kepada Allah, Insya Allah kita terhindar dari penyakit hati.


BAB III

PENUTUP



A. KESIMPULAN

Menurut literatur yang ada, Psikosomatik berasal dari kata Psiko atau Psyche yang artinya Jiwa, sedang Soma artinya badan, jadi ilmu ini mempelajari kaitan antara jiwa dan badan. Ilmu ini menegaskan bahwa faktor psikologis memegang peranan sangat penting dalam perkembangan semua penyakit. Gangguan psikosomatik adalah salah satu gangguan jiwa yang paling umum ditemukan dalam praktek umum. Istilah ini terutama digunakan untuk penyakit fisik yang disebabkan atau diperburuk oleh faktor kejiwaan/ psikologis.

Psikosomatis ditandai dengan adanya keluhan dengan gejala fisik yang beragam. Namun umumnya penderita mengalami atau mengeluhkan beberapa gejala berikut: : Mual, muntah, sendawa, sakit perut, rasa pedih, kulit gatal, pusing, nyeri saat berhubungan seksual. Ada lima cara pikiran bawah sadar berkomunikasi dengan pikiran sadar. Bisa melalui perasaan, kondisi fisik, intuisi, mimpi, dan dialog internal. Umumnya pikiran bawah sadar menyampaikan pesan melalui perasaan atau emosi tertentu. Bila emosi ini tidak ditanggapi atau diperhatikan maka ia akan menaikkan level intensitas pesannya menjadi suatu bentuk gangguan fisik dan terjadilah yang disebut dengan penyakit psikosomatis.

7 faktor penyebab berbagai gangguan psikosomatis Conflict, Organ Language, Motivation, Past Experience, Identification, Self-punishment, Suggestion/Imprint. Karena psikosomatis adalah penyakit yang disebabkan oleh proses psikis yang dialami sehingga berpengaruh terhadap fisik, maka tak ada jalan lain untuk mencegahnya kecuali dengan memahami secara betul apa yang terjadi dan dinginkan oleh diri. Pada konteks inilah, konsep self-theory yang dikatakan oleh Carl Roger menjadi penting, dengan asumsi, bahwa yang paling mengetahui dirinya adalah dirinya sendiri, bukan orang lain.

Gejala psikosomatis bisa saja diringankan dengan obat-obatan semisal penahan rasa sakit, seperti Antalgin, Postan maupun parasetamol. Namun itu hanya menahan sementara, dan gejala penyakit akan muncul kembali berulang-ulang, dan kadang dalam bentuk yang berbeda-beda. Obat-obatan hanya menangani gejala. Selama penyebabnya (program pikiran dan emosi negatif) masih ada, gejala penyakit akan terus timbul.

Tebetts mengatakan ada 4 langkah yang harus dilakukan untuk mengatasi penyakit psikosomatis dan mengatasi simtomnya dengan teknik uncovering :

1. Memori yang menyebabkan munculnya simtom harus dimunculkan dan dibawa ke pikiran sadar untuk diketahui.

2. Perasaan atau emosi yang berhubungan dengan memori ini harus kembali dialami dan dirasakan oleh klien.

3. Menemukan hubungan antara simtom dan memori.

4. Harus terjadi pembelajaran pada secara emosi atau pada level pikiran bawah sadar, sehingga membuat seseorang membuat keputusan di masa depan, yang mana keputusannya tidak dipengaruhi lagi oleh materi yang tertekan (repressed content) di pikiran bawah sadar klien.

Terapi dalam psikosomatik dalam Islam dan yang paling utama, shalat harus dilakukan dengan melibatkan hati dan rasa, karena shalat merupakan olah rasa bukan sekedar olahraga. Ilham dari Allah tidak turun dalam bentuk bunyi atau huruf ‘la shoutun wa la harfun’ namun merupakan getaran ilahiyah yang diturunkan ke dalam dada orang-orang yang beriman. Jadi apabila shalat dilakukan dengan ikhlas, hati yang semeleh, pasrah dan tunduk kepada Allah, Insya Allah kita terhindar dari penyakit hati.


B. SARAN

Dalam makalah ini kami membahas tentang Psikosomatik. Berdasarkan kesimpulan di atas. Penulis menyadari, bahwa dalam makalah ini masih banyak terdapat kekurangan. Oleh karena itu, kritikan dan saran sangat kami harapkan, guna perbaikan makalah kami di masa yang akan datang.


DAFTAR PUSTAKA

Annisa, Haris, Hasim, et. all. 2011. Efek / Pengaruh Stress Terhadap Neurofisiologi (Psikosomatis). Yogyakarta : UPN Veteran.

Budihalim S, Sukatman D. 1999. Psikosamatis. Dalam: Ilmu Penyakit Dalam jilid II, FK UI Jakarta: Rajawali Press.


Siswanto. 2006. Kesehatan Mental: Konsep, Cakupan dan Perkembangannya. Yogyakarta: Penerbit Andi.


[1]Budihalim S, Sukatman D, Psikosamatis. Dalam : Ilmu Penyakit Dalam jilid II, (Jakarta: FK UI,1999),  hal. 591-592

[3]Annisa, Haris, Hasim, et. all. Efek / Pengaruh Stress Terhadap Neurofisiologi (Psikosomatis). (Yogyakarta: UPN Veteran,2011),  hal. 7.
[4]Adi W Gunawan. Memahami penyakit psikosomatik. http://www.pembelajar.com/memahami-penyakit-psikosomatis. diakses pada 27 November  2019.

[5] Siswanto. Kesehatan Mental: Konsep, Cakupan dan Perkembangannya. (Yogyakarta: Penerbit Andi, 2006), hal. 113.
[6] Annisa, Haris, Hasim, et. all. Efek / Pengaruh Stress Terhadap Neurofisiologi (Psikosomatis), (Yogyakarta : UPN Veteran, 2011), hal. 7-9.

 
;
menu autocaristes pas cher | free wordpress themes download | WordPress tutoriels