MAKALAH
KESEHATAN MENTAL I
PSIKOSOMATIK
UNTUK
MEMENUHI SALAH SATU TUGAS
DOSEN
PENGAMPU : Dr. Zainun MA
Disusun
o
l
e
h
KELOMPOK 8 :
1. Auli Amri : 0102173194
2. Gustia Arfah Parapat :
0102173125
3. Nur Aisyah :
0102173209
4. Wulan Sari :
0102171019
BIMBINGAN
PENYULUHAN ISLAM
FAKULTAS
DAKWAH DAN KOMUNIKASI ISLAM
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI
SUMATERA
UTARA
MEDAN
2019/2020
KATA PENGANTAR
Bismillahirrohmanirrohiim.
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, inayah, taufik,
dan ilhamnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam
bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat
dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca.
Makalah ini disusun dalam rangka untuk menyelesaikan tugas dari dosen kami bapak
Dr. Zainun, MA selaku pengampu materi Kesehatan Mental I. Harapan kami semoga
makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca,
sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun
isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Makalah ini kami akui
masih banyak kekurangan karena pengalaman yang kami miliki sangat kurang. Oleh
karena itu kami harapkan kepada pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang
bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini. Akhir
kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penyusunan makalah ini sehingga dapat terselesaikan, apabila ada kesalahan
dalam penulisan kami mohon maaf. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai kita
semua.
Medan, 02 Desember 2019
penyusun
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR.................................................................................... i
DAFTAR
ISI.................................................................................................. ii
BAB
I PENDAHULUAN ..............................................................................1
A. LATAR BELAKANG.....................................................................................1
B. RUMUSAN MASALAH...............................................................................1
C. TUJUAN.......................................................................................................1-2
BAB
II PEMBAHASAN :
A. Pengertian Psikosomatik...........................................................................3-4
B. Gejala-gejala Psikosomatik......................................................................4-5
C. Proses Terjadinya Psikosomatik..............................................................5-6
D.
Faktor-faktor Penyebab
Psikosomatik....................................................6-8
E. Cara Mencegah Psikosomatik..................................................................8-9
F. Cara Mengobati
Psikosomatik................................................................9-11
G. Terapi Psikosomatik
dalam Islam..............................................................11
BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN
:...........................................................................................12
B. SARAN :........................................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................14
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Kegagalan dalam
melakukan penyesuaian terhadap berbagai persoalan bukan hanya menimbulkan
gangguan psikis atau mental saja. Gejala gagal dalam melakukan penyesuaian bisa
muncul dalam bentuk gangguan-gangguan yang bersifat kebutuhan/fisik karena pada
dasarnya antara badan dan jiwa merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan, sehingga
gangguan terhadap salah satu di antaranya menimbulkan gangguan pada lainnya.
Inilah yang kemudian sering disebut dengan gangguan psikosomatik.
Penyakit-penyakit
psikosomatik merupakan gangguan kesehatan yang bukan saja umum dijumpai dalam
populasi, tapi sering menimbulkan kesalahpahaman di bidang medis. Medikasi
sering memberi kesembuhan secara cepat, namun bukan berarti persoalannya
menjadi beres karena seringkali penyakit tersebut kambuh kembali
berulang-ulang. Ini berkaitan karena sumbernya bukan dari tubuh yang sakit,
melainkan pada persoalan mental yang belum terselesaikan.
Penemuan-penemuan
terbaru berkaitan dengan kerja otak semakin menambah keyakinan antara hubungan
yang erat antara fisik dan mental. Oleh karena itu penyembuhan penyakit-penyakit
psikosomotik perlu melibatkan interaksi fisik mental. Kerja sama bidang
kedokteran dan psikologi perlu mulai dikembangkan untuk mendapatkan strategi
penyembuhan yang ideal.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Psikosomatik ?
2. Apa saja gejala-gejala Psikosomatik ?
3. Bagaimana proses terjadinya Psikosomatik ?
4. Apa saja faktor-faktor penyebab
Psikosomatik ?
5. Bagaimana cara mencegah Psikosomatik ?
6. Bagaiman cara terapi Psikosomatik dalam
Islam ?
C. Tujuan
1. Untuk
mengetahui pengertian Psikosomatik
2. Untuk
mengetahui gejala-gejala Psikosomatik
3. Untuk
mengetahui proses terjadinya Psikosomatik
4. Untuk
mengetahui faktor-faktor penyebab Psikosomatik
5. Agar
mengetahui cara mencegah Psikosomatik
6. Agar
mengetahui cara terapi Psikosomatik dalam Islam
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Psikosomatik
Menurut literatur yang ada, Psikosomatik berasal dari
kata Psiko atau Psyche yang artinya Jiwa, sedang Soma artinya badan,
jadi ilmu ini mempelajari kaitan antara jiwa dan badan. Ilmu ini menegaskan
bahwa faktor psikologis memegang peranan sangat penting dalam perkembangan
semua penyakit. Gangguan psikosomatik adalah salah satu gangguan jiwa yang
paling umum ditemukan dalam praktek umum. Istilah ini terutama digunakan
untuk penyakit fisik yang disebabkan atau diperburuk oleh faktor kejiwaan/
psikologis. Istilah ini diperkenalkan oleh seorang dokter Jerman Heinroth ke
dalam kedokteran Barat. Pada tahun 1818 ia menerbitkan desertasi yang
menekankan pentingnya faktor psikososial dalam perkembangan penyakit fisik.
Sebenarnya, kurang lebih 400 tahun SM ahli filsafat
Hipocrates sudah mengutarakan pentingnya peran faktor psikis pada penyakit.
Pada abad pertengahan Paracelcus seorang ahli kimia menyatakan bahwa kekuatan
batin memiliki pengaruh terhadap kekuatan seseorang. Pada perkembangannya, psikosomatik disebut juga dengan
psikosomatis, somatisasi, neurofisiologi, dan sebagainya, yang pada intinya
mempunyai satu makna.
Psikosomatik adalah gangguaan fisik yang disebabkan
oleh faktor-faktor kejiwaan dan sosial. Seseorang jika emosinya menumpuk dan
memuncak maka hal itu dapat menyebabkan terjadinya goncangan dan kekacauan
dalam dirinya. Jika faktor-faktor yang menyebabkan memuncaknya emosi itu secara
berkepanjangan tidak dapat dijauhkan, maka ia dipaksa untuk selalu berjuang
menekan perasaannya. Perasaaan tertekan, cemas, kesepian dan kebosanan yang
berkepanjangan dapat mempengaruhi kesehatan fisiknya. Jadi Psikosomatik dapat
disebut sebagai penyakit gabungan, fisik dan mental, dimana yang sakit
sebenarnya jiwanya, tetapi menjelma dalam bentuk sakit fisik.
Beberapa penyakit fisik dianggap sangat rentan
diperburuk oleh faktor mental seperti stres dan kecemasan, di antaranya:
gangguan kulit, muscoskeletal (otot, sendi dan saraf), pernafasan,
jantung, kemih, kelenjar, mata dan saraf. Pusing, keringat dingin, tangan
basah, sakit perut dan melilit juga terjadi dikarenakan akibat dari pikiran,
yang merupakan gejala dari
psikosomatik. Gejala penyakit ini banyak terjadi pada wanita dan pria mulai
dari usia remaja sampai dewasa, bahkan lanjut usia.
Gangguan psikosomatis
atau somatisasi adalah gangguan psikis yang menyebabkan gangguan fisik. Pendek kata,
psikosomatik adalah penyakit fisik yang disebabkan oleh pikiran negatif
dan/atau masalah emosi. Masalah emosi itu antara lain rasa berdosa, merasa
punya penyakit, stress, depresi, kecewa, kecemasan atau masalah emosi negatif
lainnya. Gangguan ini tidak hanya terjadi pada orang dewasa, anak-anak pun bisa
mengalaminya. Perlu diketahui bahwa pikiran dapat menyebabkan gejala fisik.
Sebagai contoh, ketika seseorang takut atau cemas dapat memacu detak jantung
yang cepat, jantung berdebar, merasa sakit, gemetar (tremor), berkeringat,
mulut kering, sakit dada, sakit kepala, dan bernafas cepat. Gejala-gejala fisik
tersebut melalui saraf otak mengirim impuls tersebut ke berbagai bagian tubuh,
dan pelepasan adrenalin ke dalam aliran darah.
B. Gejala-gejala Psikosomatik
Sindroma psikosomatik mempunyai gejala fisik berupa :
(1). Penyakit salah satu sistem tubuh yang paling rentan bagi pasien, misalnya
: Asma (sistem respiratorius), neurodermatitis (sistem integumentum), ulkus
peptikum (sistem digestivus), artritis rematik (sistem muskuloskeletal), PJK
dan aritmia (sistem kardiovaskuler), dan migrain (sistem neurologik). Pada
sindroma psikosomatik ini dijumpai pula (2) patologi organ (+) dan (3)
mekanisme patofisiologik (+). Gejala psikis berupa (1). Munculnya gejala sistem
tersebut berkaitan dengan waktu dan stimulus lingkungan yang secara psikologis
bermakna bagi pasien dan (2). Faktor psikologis tersebut bukan merupakan
gangguan mental yang spesifik.
Psikosomatis ditandai dengan adanya keluhan dengan
gejala fisik yang beragam. Namun umumnya penderita mengalami atau mengeluhkan
beberapa gejala berikut: : Mual, muntah, sendawa, sakit perut, rasa pedih,
kulit gatal, pusing, nyeri saat berhubungan seksual. Para penderita psikosomatik, umumnya mengeluhkan
gangguan yang berkaitan dengan sistem organ, seperti :
1. Kardio-vaskuler : Keluhan jantung berdebar-debar, cepat
lelah
2. Gastro-intestinal : Keluhan ulu hati nyeri, mencret kronis
3. Respiratorlus : Keluhan sesak napas, asma
4. Dermatologi : Keluhan gatal, eksim
5. Muskulo-skeletal : Keluhan encok, pegal, kejang
6. Endokrinologl : Keluhan hipertiroidi, hipotiroidi,
dismenorea
7. Urogenital : Kehuhan masih ngompoh, gangguan
gairah seks
8. Serebro vaskuler : Keluhan pusing, sering lupa, sukar
konsentrasi, kejang epilepsi.
Selain itu, masalah
kejiwaan yang menyertainya yaitu gejala anxietas dan gejala depresi.
C. Proses Terjadinya
Psikosomatik
Untuk memahami
terjadinya penyakit psikosomatis kita perlu mencermati hukum pikiran dan
pengaruh emosi terhadap tubuh. Ada banyak hukum yang mengatur cara kerja
pikiran, salah satunya adalah :
*Setiap pikiran atau ide mengakibatkan reaksi fisik.
*Simtom yang muncul dari emosi cederung akan
mengakibatkan perubahan pada tubuh fisik bila simtom ini bertahan cukup lama.
Hukum pertama mengatakan setiap pikiran atau ide
mengakibatkan reaksi fisik. Bila seseorang berpikir, secara konsisten, dan
meyakinkan dirinya bahwa ia sakit jantung, maka cepat atau lambat ia akan mulai
merasa tidak nyaman di daerah dada, yang ia yakini sebagai gejala sakit
jantung. Bila ide ini terus menerus dipikirkan dan akhirnya ia menjadi sangat
yakin, menjadi percaya, karena gejalanya memang “benar” adalah gejala sakit
jantung maka, sesuai dengan bunyi hukum yang kedua, ia akan benar-benar sakit
jantung. Biasanya orang tidak akan secara sadar menginginkan
mengalami sakit tertentu. Umunya yang mereka rasakan adalah suatu perasaan
tidak nyaman, secara emosi. Sayangnya mereka tidak mengerti bahwa perasaan
tidak nyaman ini sebenarnya adalah salah satu bentuk komunikasi dari pikiran
bawah sadar ke pikiran sadar.
Ada lima cara pikiran bawah sadar berkomunikasi dengan
pikiran sadar. Bisa melalui perasaan, kondisi fisik, intuisi, mimpi, dan dialog
internal. Umumnya pikiran bawah sadar menyampaikan pesan melalui perasaan atau
emosi tertentu. Bila emosi ini tidak ditanggapi atau diperhatikan maka ia akan
menaikkan level intensitas pesannya menjadi suatu bentuk gangguan fisik dan
terjadilah yang disebut dengan penyakit psikosomatis.
Dalam mata kuliah psikologi faal dijelaskan, bahwa
semua proses dari hormon itu melibatkan sistem limbik setelah sebelumnya
melewati hipofase (hipotalamus). Sistem limbik ini adalah pusat dari segala
emosi yang terjadi pada manusia. Sehingga secara otomatis, pertumbuhan dan
perkembangan hormon dipengaruhi oleh perasaan atau emosi. Otak manusia selain merupakan pusat pikir (otak
besar) yang merupakan pusat kesadaran, juga merupakan pusat emosi (otak kecil
maupun batang otak). Jadi sebenarnya antara pikiran dan emosi terdapat jalinan
yang sangat erat karena semuanya terjadi di otak. Berdasarkan anatomi seperti inilah, maka muncul istilah kecerdasan emosi,
yaitu bagaimana orang bisa mengelola emosi sehingga berguna untuk meningkatkan
kualitas hidup.
Emosi pada gilirannya akan mempengaruhi kerja sistem
saraf, hormonal maupun fungsi otak lainnya. Orang yang cerdas secara emosi akan
mampu mengintegrasikan kerja seluruh bagian otaknya sehingga mampu berfungsi
secara optimal. Misalnya, ketika menghadapi suatu persoalan, otak kecil akan
bereaksi sehingga memacu pengeluaran hormon yang ada di otak. Hormon ini pada
gilirannya akan mempengaruhi kerja kelenjar hormon lainnya yang ada di tubuh,
misalnya seperti kelenjar adrenal yang terdapat pada ginjal. Bagian dalam
kelenjar adrenal memproduksi hormon adrenalin yang menyebabkan reaksi emosi
takut dan hormon noradrenalin yang menyebabkan emosi marah. Karena rangkaian
seperti inilah maka kita bisa merasakan emosi marah atau takut dan berbagai macam
emosi lainnya dalam jangka waktu yang agak lama.
Apalagi karena hormon-hormon tersebut diserap oleh
tubuh dengan perlahan-lahan. Hormon-hormon ini pada gilirannya akan
mempengaruhi reaksi saraf otonom dalam jangka waktu yang agak lama juga. Inilah
sebabnya mengapa orang yang mengalami stres atau emosi yang tinggi dalam jangka
waktu yang lama akhirnya mudah menjadi sakit ini disebabkan fungsi organ tubuh
yang tidak seimbang lagi (mengalami ketegangan dalam jangka waktu yang lama)
sehingga mengganggu metabolisme maupun daya tahan tubuh.
D. Faktor-faktor Penyebab
Psikosomatik
David B.Cheek, M.D. dan Leslie M. Lecron, B.A dalam
bukunya Clinical Hypnotherapy mengatakan bahwa ada 7 faktor penyebab berbagai
gangguan psikosomatis. Memahami 7 kunci penting ini akan membantu terapis dan
klien membuka pintu gerbang kesadaran baru tentang pemahaman masalahnya. Untuk
memudahkan mengingat maka kita gunakan mnemonik COMPISS (Conflict, Organ
Language, Motivation, Past Experience, Identification, Self-punishment,
Suggestion/Imprint)
1.Conflict
Konflik internal muncul karena ada minimal dua bagian
dari diri seseorang yang saling bertentangan. Tujuan dari kedua bagian ini
sebenarnya sama baiknya namun karena bertolak belakang akibatnya timbul
masalah. Sebagai contoh kasus yang lain adalah seorang salesman yang sangat
sukses namun memiliki kecemasan sangat tinggi dan selalu berusaha menghindar
untuk berjabat tangan. Padahal dalam menjalankan aktivitasnya ia seringkali
harus berjabat tangan memperkenalkan diri dengan pelanggannya. Setelah
dilakukan hipnoanalisis ternyata saat ia masih remaja ia sering melakukan
masturbasi dan ia ketakutan membayangkan orang-orang yang dikenalnya akan bisa
mengenali keburukannya
2. Organ Language /
Unresolved problem
Ini adalah salah satu cara pikiran bawah sadar
berbicara pada kita tentang masalah yang belum terselesaikan. Caranya adalah
dengan memberi rasa sakit pada bagian tertentu tubuh kita. Jadi masalah itu
dimunculkan dalam bentuk symptom. Dengan adanya symptom diharapkan pikiran
bawah sadar mendapatkan perhatian dari pikiran sadar. Makna symptom ini adalah,
”Saya tidak suka apa yang sedang anda lakukan”. Inilah penyakit yang
bersifat psikosomatis. Jadi klien perlu dibantu menemukan akar masalahnya jauh
di pikiran bawah sadarnya. Seringkali apa yang tampaknya menjadi masalah,
menurut pikiran sadar, ternyata berbeda dengan yang dinyatakan oleh pikiran bawah
sadar.
3. Motivation
Symptom yang dialami seseorang sering kali mempunyai
tujuan tersembunyi demi keuntungan orang tersebut. Contohnya adalah seorang
anak yang malas sekali belajar sehingga ulangannya mendapatkan nilai jelek
semua. Ternyata hal ini adalah salah satu upayanya agar mendapatkan teguran
dari orangtua. Ia menyamakan teguran dengan perhatian. Contoh lain lagi adalah
kasus pada seorang wanita yang mengalami migrain. Setelah diselidiki lebih
dalam ternyata pikiran bawah sadar wanita ini membuat wanita ini mengalami
migrain karena dengan demikian suami dan anak-anaknya memperhatikannya. Bila
dalam kondisi normal, tanpa migrain, keluarganya biasanya sibuk sendiri dan
kurang memperhatikan wanita ini.
4. Past Experience
Pengalaman masa lalu yang menyakitkan, sesuai dengan
persepsi pikiran bawah sadar, mempunyai pengaruh yang sangat kuat dan bertahan
lama. Contohnya adalah phobia. Ketakutan akan sesuatu, yang terjadi di masa
lalu, terbawa hingga masa kini dan sangat mengganggu seseorang.
5. Identification
Pada kasus ini klien mengidentifikasikan dirinya
dengan satu figur yang ia kagumi. Contoh kasusnya adalah seorang klien yang
sering ditipu oleh rekan kerjanya. Ternyata ia mengidolakan seorang tokoh
bisnis yang dulunya ditipu berkali-kali sehingga akhirnya bisa sukses dan
makmur. Identifikasi ini adalah sebuah program yang bekerja sangat halus yang
jika digunakan dengan baik maka akan menghasilkan sesuatu yang positif. Satu
hal yang perlu diingat bila kita menggunakan identifikasi adalah apapun yang
melekat pada seorang figur biasanya akan ikut terserap juga walau terkadang ini
bertentangan dengan nilai hidup kita.
6. Self-punishment
Perasaan bersalah atas apa yang telah dilakukan di
masa lalu sering kali termanifestasi dalam sebuah perilaku untuk menghukum diri
sendiri. Terapi dilakukan dengan membantu klien untuk bisa memaafkan dirinya
sendiri atas kesalahan tersebut atau yang dirasa sebagai suatu kesalahan yang
ia lakukan.
7. Sugesstion/Imprint
Imprint adalah sebuah kepercayaan/belief yang ditanamkan
ke pikiran klien, biasanya oleh figur yang oleh klien dipandang memiliki
otoritas. Seorang wanita berumur 40 an tahun menderita batuk puluhan tahun. Tak
ada pengobatan yang bisa menyembuhkan batuknya. Akhirnya ia pun mencoba
hipnoterapi dan setelah dilakukan hipnoanalisis akhirnya terungkap pada saat ia
berusia 4 tahun ia sedang terbaring di ranjang rumah sakit. Ia menderita batuk
yang sangat parah. Ayah ibunya ada di sisi ranjangnya saat seorang dokter
mengatakan bahwa ia tak akan pernah sembuh dari batuknya. Perkataan dokter ini
langsung membuatnya ketakutan dan saat itulah perkataan sang dokter menjadi
sebuah kebenaran yang diterima pikiran bawah sadarnya.
E. Cara Mencegah
Psikosomatik
Karena psikosomatis adalah penyakit yang disebabkan
oleh proses psikis yang dialami sehingga berpengaruh terhadap fisik, maka tak
ada jalan lain untuk mencegahnya kecuali dengan memahami secara betul apa yang
terjadi dan dinginkan oleh diri. Pada konteks inilah, konsep self-theory yang
dikatakan oleh Carl Roger menjadi penting, dengan asumsi, bahwa yang paling
mengetahui dirinya adalah dirinya sendiri, bukan orang lain. Jika menggunakan
teorinya Freud, maka seseorang harus berusaha sekuat mungkin untuk “mendamaikan”
antara id dengan superego-nya sehingga dapat meminimalisasi terjadinya konflik
atau neurotik. Namun, hal ini akan sulit sekali karena tak ada kebutuhan dari
id yang selamanya mulus jika melewati filter dari super ego. Sehingga konsep
humanistik, dalam kondisi ini, dapat mengambil perannya, yaitu sebuah konsep
yang berusaha untuk menyadarkan kemanusiaan manusia.
Sederhananya, konsep humanistik ini mengajarkan
manusia untuk mengaktualisasikan diri, berprilaku yang baik dan benar, jujur,
dan sadar akan potensi diri. Pada proses selanjutnya, konsep tentang
spiritualitas dapat juga dijadikan acuan. Selanjutnya berupa anjuran untuk memperbaiki kondisi
lingkungan dalam keluarga, sosial ekonomi, dan juga di lingkungan pekerjaannya.
Sebab, tidak jarang penyebab masalah psikis adalah orang-orang yang berada di
sekitarnya, atau mungkin significan other dalam hidupnya.
Dengan adanya sosialisasi yang baik, seseorang akan
mudah untuk berpikir terbuka dan berpikir positif, yang secara otomatis akan
menjadikannya lebih sehat, baik fisik maupun psikis. Untuk itulah, seseorang
wajib memahami sungguh-sungguh masalah psikosomatis ini. Lebih-lebih para
praktisi medis. Mereka harus lebih proaktif dan bertindak profesional sehingga
masyarakat/pasien tidak dijatuhkan pada pemaksaan terselubung alias
medikalisasi.
F. Cara Mengobati
Psikosomatik
Perkembangan dalam terapi ilmu kedokteran dewasa ini sesuai
dengan definisi WHO tahun 1994 tentang "konsep sehat" adalah sehat
secara fisik, psikologis, sosial, dan spiritual, maka terapi pun seharusnya
dilakukan secara holistik. Maksudnya, tidak hanya gejala fisik saja yang
ditangani tetapi pemeriksaan pada faktor-faktor psikis yang biasanya sangat
mendominasi penderita psikosomatis pun menjadi prioritas.
Selain itu, bagi seorang dokter seharusnya mampu
menyakinkan dan menenangkan penderita penyakit psikosomatis ini sehingga mereka
tidak terlalu memikirkan kondisi penyakitnya. Berempati dalam mendengarkan
segala keluhan penderita yang berkaitan dengan masalah kehidupan yang dihadapinya
sebagai salah satu cara terapi (ventilasi) juga menjadi salah satu tugas dokter
dalam menangani penyakit ini. Dengan demikian penderita akan lebih merasa
tenang.
Seorang dokter juga seharusnya memberikan re-edukasi
dan re-assurance. Ini dimaksudkan untuk meyakinkan dan menjamin penderita bahwa
segala masalah yang dihadapi dapat diatasi. Biasanya pada tahap ini peran
dokter/psikiater atau rohaniwan sangat membantu.8 Ada dua macam pengobatan
untuk gangguan psikosomatik, pengobatan fisik dan mental. Pengobatan fisik
disesuaikan dengan penyakit yang diderita. Sedangkan perawatan mental dapat
dilakukan dengan hipnoterapi, obat, atau dengan bantuan psikolog.
Gejala psikosomatis bisa saja diringankan dengan
obat-obatan semisal penahan rasa sakit, seperti Antalgin, Postan maupun
parasetamol. Namun itu hanya menahan sementara, dan gejala penyakit akan muncul
kembali berulang-ulang, dan kadang dalam bentuk yang berbeda-beda. Obat-obatan
hanya menangani gejala. Selama penyebabnya (program pikiran dan emosi negatif)
masih ada, gejala penyakit akan terus timbul.
Pada dasarnya penyakit psikosomatis merupakan hal yang
sederhana. Mengapa ? Karena begitu masalah yang terpendam di dalam pikiran
bawah sadar diketahui, dan masalah tersebut diselesaikan, maka saat itupun pikiran
memerintahkan tubuh untuk menghilangkan segala gejala-gejala yang muncul. Disitulah
saatnya terjadi kesembuhan atas penyakit psikosomatis tersebut. Pada kondisi
seperti ini, yang harus dilakukan adalah menyembuhkan gangguan psikis. Hipnosis
atau hipnoterapi menjadi salah satu pilihan terbaik untuk menyembuhkan gangguan
ini.
Menurut APA (American Psychological Association),
Dictionary of Psychology, edisi 2007, bukti-bukti ilmiah menunjukkan
hipnoterapi dapat bermanfaat mengatasi hipertensi, asma, insomnia, manajemen
rasa nyeri akut maupun kronis, anorexia, nervosa, makan berlebih, merokok, dan
gangguan kepribadian. Hasil guna sebagai "terapi pendukung" dalam
beberapa penyakit juga telah terbukti.
Menurut kata Ferdiansyah Setiadi Setiawan, S.I.P., CI,
CHt, CH, instruktur hipnoterpi, hipnoterapi, Ketua IBH (The Indonesian Board of
Hypnotherapy) Chapter Bandung, "Dengan mengistirahatkan pikiran sadar
(conscious mind) melalui hipnosis, seseorang dapat diberikan memori, saran,
atau sugesti yang dapat memprogram ulang pikiran bawah sadarnya untuk berbagai
tujuan positif,".
Tebetts mengatakan ada
4 langkah yang harus dilakukan untuk mengatasi penyakit psikosomatis dan
mengatasi simtomnya dengan teknik uncovering :
1. Memori yang menyebabkan munculnya simtom harus
dimunculkan dan dibawa ke pikiran sadar untuk diketahui
2. Perasaan atau emosi yang berhubungan dengan memori ini
harus kembali dialami dan dirasakan oleh klien.
3. Menemukan hubungan antara simtom dan memori.
4. Harus terjadi pembelajaran pada secara emosi atau pada
level pikiran bawah sadar, sehingga membuat seseorang membuat keputusan di masa
depan, yang mana keputusannya tidak dipengaruhi lagi oleh materi yang tertekan
(repressed content) di pikiran bawah sadar klien.
Pada saat alasan
terciptanya penyakit psikosomatis ini dihilangkan, maka pikiran bawah sadar
tidak mempunyai alasan lagi untuk memunculkan penyakit ini di masa mendatang. Bagaimana menangani penyakit psikosomatis ?
Penanganan pada orang dewasa dapat dilakukan dengan :
1. Obat (penenang, anti
depresan, tidur)
2. Olahraga/relaksasi dan
rekreasi
3. Meningkatkan ibadah
4. Hipnoterapi
Karena yang menjadi sumber masalah sebenarnya adalah emosi maka terapis harus
mampu membantu klien memproses emosi terpendam yang menjadi sumber masalah.
G. Terapi Psikosomatik
dalam Islam
Bagaimana shalat bisa menangani psikosomatik ? Shalat
yang dilakukan dengan benar atau khusyu, ternyata mampu untuk mencegah
atau mengobati penyakit tersebut. Dalam shalat, semua gerakan dilakukan dengan
tuma’ninah, tidak terburu-buru atau ada jeda dalam setiap gerakan shalat. Mulai
dari takbiratul ihram, ruku’ dan sujud, semuanya dilakukan dengan tumakninah
dan secara fisik semua anggota badan harus rileks, jangan ada otot-otot yang
menegang.
Dan
yang paling utama, shalat harus dilakukan dengan melibatkan hati dan rasa,
karena shalat merupakan olah rasa bukan sekedar olahraga. Ilham dari Allah
tidak turun dalam bentuk bunyi atau huruf ‘la shoutun wa la harfun’
namun merupakan getaran ilahiyah yang diturunkan ke dalam dada orang-orang yang
beriman. Jadi apabila shalat dilakukan dengan ikhlas, hati yang semeleh, pasrah
dan tunduk kepada Allah, Insya Allah kita terhindar dari penyakit hati.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Menurut literatur yang ada, Psikosomatik berasal dari
kata Psiko atau Psyche yang artinya Jiwa, sedang Soma artinya badan,
jadi ilmu ini mempelajari kaitan antara jiwa dan badan. Ilmu ini menegaskan
bahwa faktor psikologis memegang peranan sangat penting dalam perkembangan
semua penyakit. Gangguan psikosomatik adalah salah satu gangguan jiwa yang
paling umum ditemukan dalam praktek umum. Istilah ini terutama digunakan
untuk penyakit fisik yang disebabkan atau diperburuk oleh faktor kejiwaan/
psikologis.
Psikosomatis ditandai dengan adanya keluhan dengan
gejala fisik yang beragam. Namun umumnya penderita mengalami atau mengeluhkan
beberapa gejala berikut: : Mual, muntah, sendawa, sakit perut, rasa pedih,
kulit gatal, pusing, nyeri saat berhubungan seksual. Ada lima cara pikiran
bawah sadar berkomunikasi dengan pikiran sadar. Bisa melalui perasaan, kondisi
fisik, intuisi, mimpi, dan dialog internal. Umumnya pikiran bawah sadar
menyampaikan pesan melalui perasaan atau emosi tertentu. Bila emosi ini tidak
ditanggapi atau diperhatikan maka ia akan menaikkan level intensitas pesannya
menjadi suatu bentuk gangguan fisik dan terjadilah yang disebut dengan penyakit
psikosomatis.
7 faktor penyebab
berbagai gangguan psikosomatis Conflict, Organ Language, Motivation, Past
Experience, Identification, Self-punishment, Suggestion/Imprint. Karena psikosomatis
adalah penyakit yang disebabkan oleh proses psikis yang dialami sehingga
berpengaruh terhadap fisik, maka tak ada jalan lain untuk mencegahnya kecuali
dengan memahami secara betul apa yang terjadi dan dinginkan oleh diri. Pada
konteks inilah, konsep self-theory yang dikatakan oleh Carl Roger
menjadi penting, dengan asumsi, bahwa yang paling mengetahui dirinya adalah
dirinya sendiri, bukan orang lain.
Gejala psikosomatis bisa saja diringankan dengan
obat-obatan semisal penahan rasa sakit, seperti Antalgin, Postan maupun
parasetamol. Namun itu hanya menahan sementara, dan gejala penyakit akan muncul
kembali berulang-ulang, dan kadang dalam bentuk yang berbeda-beda. Obat-obatan
hanya menangani gejala. Selama penyebabnya (program pikiran dan emosi negatif)
masih ada, gejala penyakit akan terus timbul.
Tebetts mengatakan ada
4 langkah yang harus dilakukan untuk mengatasi penyakit psikosomatis dan
mengatasi simtomnya dengan teknik uncovering :
1. Memori yang menyebabkan munculnya simtom harus dimunculkan
dan dibawa ke pikiran sadar untuk diketahui.
2. Perasaan atau emosi yang berhubungan dengan memori ini
harus kembali dialami dan dirasakan oleh klien.
3. Menemukan hubungan antara simtom dan memori.
4. Harus terjadi pembelajaran pada secara emosi atau pada
level pikiran bawah sadar, sehingga membuat seseorang membuat keputusan di masa
depan, yang mana keputusannya tidak dipengaruhi lagi oleh materi yang tertekan
(repressed content) di pikiran bawah sadar klien.
Terapi dalam psikosomatik dalam Islam dan
yang paling utama, shalat harus dilakukan dengan melibatkan hati dan rasa,
karena shalat merupakan olah rasa bukan sekedar olahraga. Ilham dari Allah
tidak turun dalam bentuk bunyi atau huruf ‘la shoutun wa la harfun’
namun merupakan getaran ilahiyah yang diturunkan ke dalam dada orang-orang yang
beriman. Jadi apabila shalat dilakukan dengan ikhlas, hati yang semeleh, pasrah
dan tunduk kepada Allah, Insya Allah kita terhindar dari penyakit hati.
B. SARAN
Dalam makalah ini kami membahas tentang Psikosomatik.
Berdasarkan kesimpulan di atas. Penulis menyadari, bahwa dalam makalah ini
masih banyak terdapat kekurangan. Oleh karena itu, kritikan dan saran sangat
kami harapkan, guna perbaikan makalah kami di masa yang akan datang.
DAFTAR
PUSTAKA
Annisa,
Haris, Hasim, et. all. 2011. Efek / Pengaruh Stress Terhadap Neurofisiologi
(Psikosomatis). Yogyakarta : UPN Veteran.
Budihalim
S, Sukatman D. 1999. Psikosamatis. Dalam: Ilmu Penyakit
Dalam jilid II, FK UI Jakarta: Rajawali Press.
Budihalim S, Sukatman D, Psikosamatis.
Dalam : Ilmu Penyakit Dalam jilid II, (Jakarta: FK UI,1999), hal. 591-592
Annisa, Haris, Hasim, et. all. Efek / Pengaruh
Stress Terhadap Neurofisiologi (Psikosomatis). (Yogyakarta: UPN
Veteran,2011), hal. 7.
Annisa, Haris, Hasim, et. all. Efek /
Pengaruh Stress Terhadap Neurofisiologi (Psikosomatis), (Yogyakarta : UPN
Veteran, 2011), hal. 7-9.
- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact